Ya Allah Izinkan Aku untuk beribadah di Tanah Suci... Aamiin

Jumat, 17 Agustus 2012

Biografi Koko Liem

          Haji Muhammad Ustman Ansori, SQ, MA Al Hafizh yang memiliki nama Tionghoa sebelum muslim Liem Hai Thai, namun sekarang da’i berkacamata ini lebih akrab disapa Koko Liem lahir pada 17 Januari 1979 di Dumai Riau dari sepasang suami istri berdarah Tionghoa, Liem Guanho dan Laihua. Koko Liem merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Sejak kecil ia dididik dalam keluarga pemeluk agama Budha yang taat. Bahkan ayahnya adalah seorang aktivis Klenteng. Menjelang Maghrib, keluarga ini termasuk Liem kecil secara rutin sembahyang untuk menyembah pay pekkong (arwah leluhur dari orang-orang terkenal). Namun lelaki Tionghoa itu sangat bersyukur mendapatkan hidayah Allah hingga masuk Islam sejak usia 15 tahun. Setelah masuk Islam pada 21 Juli 1994, Utsman yang biasa dipanggil Koko Liem itu terus mendalami agama barunya dan memutuskan untuk untuk berdakwah.

           Keislaman Koko Liem tidak didapat secara instan. Saat duduk di kelas dua sekolah dasar negeri, Koko Liem mulai mengenal Islam, baik melalui lingkungan tempat tinggalnya maupun di sekolah. Saat ada pelajaran agama Islam, tak seperti anak-anak non-muslim lain di SD nya, Koko Liem memilih tidak keluar kelas saat pelajaran agama Islam berlangsung. Koko Liem kecil senang mendengarkan kisah nabi-nabi oleh guru agama Islam disekolahnya. Sebab ketertarikannya akan kisah-kisah para Nabi itu menggiringnya untuk mengenal Islam lebih dalam. Sejak saat itu, Koko Liem terus mengikuti pelajaran agama Islam dan selalu hadir dalam setiap acara peringatan hari besar Islam di sekolahnya. Meski demikian, setiap petang beliau tetap bersembahyang bersama keluarga dirumah untuk menyembah pay pekkong. Walaupun beragama Budha, kecintaannya terhadap Islam pun semakin terpupuk. Ditambah suara adzan yang didengarnya setiap hari dan takbir menjelang Idul Fitri, makin menggetarkan sukmanya hingga membuatnya meneteskan air mata.

           Setelah masuk SMP Syeikh Umar – Dumai Riau, Koko Liem tetap melanjutkan tradisi tidak mau meninggalkan ruang kelas saat ada pelajaran agama Islam, beliau belajar di sekolah ini karena sekolah ini mau menerima murid yang berasal dari agama lain. Koko Liem kemudian memanfaatkan kesempatan mengikuti pelajaran agama Islam itu sebaik-baiknya. Ia berusaha membandingkan agama Islam dengan agama yang dipelajari dan dianutnya, yaitu Budha. Pasalnya, setiap minggu beliau juga harus tetap ke wihara untuk belajar agama Budha dan mendapatkan nilai agama itu, yang kemudian diserahkan ke pihak sekolah. Saat mengikuti agama Islam, Koko Liem sangat terkesan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. Kegundahan mulai merasuki batin Koko Liem. Setelah berkonsultasi kepada kakaknya Muhammad Abdul Nashir (Liem Hai Seng) yang lebih dulu masuk Islam, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi muallaf ketika naik kelas kelas 3 SMP.

          Setelah masuk Islam, kehidupan Koko Liem tak serta merta membaik. Justru sebaliknya, beliau harus pindah dari Dumai ke Duri, Riau. Sebab, ayahnya sangat marah dan mengusirnya dari rumah. Sejak itu beliau diasuh oleh seorang ulama Riau bernama KH. Ali Muchsin. Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur di Kandis, Riau itulah yang mendorong tekadnya untuk menjadi da’i. Kemana pun Ali Muchsin berdakwah, putra aktivis Klenteng Budha yang bermata sipit dan berkulit putih itu berusaha untuk bisa mengikutinya. Beliau sangat senang mendengarkan gurunya itu memberikan materi ceramah.

          Latar belakang pendidikan formal Koko Liem diawali di SD 14 Dumai Barat, Riau, SMP Islam Mutiara Duri Riau pada 1995. Untuk mewujudkan niatnya terjun ke jalur dakwah, Koko Liem melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja Banten sejak 1995 hingga 1999. Setamatnya dari Pondok Pesantren Daar El Qolam, Balaraja Banten, beliau kembali melanjutkan di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Raudhatul Muhsinin, Malang Jawa Timur. Pada tahun 2001, beliau melanjutkan studinya ke Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Lebak bulus Ciputat hingga lulus 2005. Dan pada 2005-2008 kembali melanjutkan studi S2 nya di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dengan mengambil Jurusan Konsentrasi Ilmu Tafsir.

 AKTIVITAS DAKWAH

          Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, hal itu telah jelas dituangkan dalam al-qur’an dan juga pada hadits. Ketertarikan Koko Liem dalam dunia dakwah semenjak beliau sebelum hijrah ke agama islam. Karena ayah beliau itu seorang aktivis Klenteng atau suhu yang juga seorang orator yang berdakwah dirumah-rumah agama Budha seperti di klenteng dan wihara. Dari situlah beliau sering memperhatikan ayahnya berceramah tetapi yang jelas dibidang agamanya sendiri.

          Ketertarikannya akan kisah-kisah Nabi itu menggiringnya untuk mengenal Islam lebih dalam. Setelah memutuskan untuk menjadi seorang muallaf, Koko Liem pun banyak mendalami agama Islam dan memutuskan untuk berdakwah. Sejak duduk dibangku kuliah, Koko sudah mulai berdakwah. Namun kesempatannya untuk meluaskan wilayah dakwah, beliau dapat setelah mengikuti kompetisi da’i di salah satu stasiun televisi di Jakarta. Awalnya Koko Liem tidak berminat untuk mengikuti kompetisi itu karena menurutnya untuk apa da’i dilombakan. Tetapi karena dorongan teman-teman kuliahnya akhirnya Koko Liem ikut, teman-teman Koko beranggapan Koko Liem mempunyai bakat untuk itu. Dengan niat Lillahi Ta’ala untuk berdakwah tanpa memikirkan polling sms atau menang dan kalah, beliau ikut berkompetisi dalam acara DAI atau Dakwah TPI. Meskipun berhasil menjadi finalis, Koko Liem gagal menembus lima besar DAI TPI 2005. Namun hal tersebut tak menyurutkan langkahnya untuk berdakwah. Sejak saat itu, kesempatan dakwahnya justru makin besar karena sudah banyak orang mengenalnya dan memnaggilnya untuk mengisi ceramah di pengajian-pengajian.

          Kiprah dan pengalaman beliau dalam dunia dakwah tak diragukan lagi karena beliau berceramah bukan hanya dari mimbar-ke mimbar tetapi beliau sering tampil untuk berdakwah di berbagai media massa & radio . Beliau juga sering tampil di berbagai acara di Televisi yang bernuansa islami, seperti Pencerahan rohani di TPI, SCTV, INDOSIAR, TRANS TV, TRANS 7, TV ONE, TVRI. Beliau juga pernah menjadi Peran Kiyai di Sinetron Kiamat Sudah Dekat 3 SCTV 2007 dan lain-lain.

          Aktivitas dakwah Koko Liem yang mempunyai nama Islam Muhammad Ustman Anshori, SQ, MA mulai tahun 2004 aktif mengisi pengajian dibeberapa majelis taklim. Misalnya setiap Senin pagi beliau mengisi pengajian di Masjid Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta. Jamaahnya mencapai 250 orang. Setiap Jum’at malam, beliau mengisi pengajian di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta Timur. Belum lagi, setiap hari beliau diundang untuk mengisi pengajian di beberapa majelis taklim baik di Jakarta maupun di luar kota. Selain sibuk berdakwah, hampir setiap hari juga mengajar anak-anak membaca al-Qur’an serta ilmu agama Islam lainnya seperti fikih, tafsir, akhlak. Dan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Pembinaan Muallaf “Sheng Hoo Budaya” Sentul Selatan Bogor Jawa Barat.

          Dalam penyampaian dakwahnya Koko Liem tidak pandang bulu, sSeharusnya da’i dapat menyesuaikan dengan kondisi masyarakatnya serta harus tetap menjaga profesionalisme dan mempunyai manajemen yang bagus, hal ini untuk menunjukkan contoh kebaikan islam sehingga islam terkesan profesional. Ustadz Koko Liem yang akrab dengan berbagai perkembangan teknologi ini, berpendapat bahwa berdakwah tidak mesti di atas mimbar, dipanggung atau diundang ke suatu pengajian. Segala tempat dan cara di bumi ini bisa dijadikan media dakwah untuk menyebarkan Islam dan memperdalam keislaman jamaah. Hal ini terbukti, Koko Liem menggunakan dakwahnya lewat pesan-pesan bijak langsung lewat Handphone, seperti ketik REG (SPASI) LIEM kirim ke 3477, yang bernama SMS Lampion Hati Seputar Tips Keluarga Sakinah, Panduan untuk Muallaf dan Tips Mencari Pasangan Secara Islami dan juga Ring Back Tone ( Nada Sapa I-Ring) yang berisi Tausiyah yang dibawakan olehnya. Salah satu karya dakwah yang efektif di zaman yang serba canggih di dunia telekomunikasi.

0 komentar:

Poskan Komentar