Ya Allah Izinkan Aku untuk beribadah di Tanah Suci... Aamiin

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Juli 2012

Kisah seorang anak Amerika yang memilih islam sebagai agamanya

Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari) Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun. Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan. Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil. Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?” ”Tidak”. Wartawan menjawab. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya. Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?” Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, surban yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.” Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”. Wartawab bertanya kembali, ” Apakah engkau telah puasa Ramadhan?” Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan, ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”. ”Apakah cita-citamu?” tanya wartawan, Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”. ”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?”. tanya wartawan lagi. Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ” Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah sembab khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”. Tampaklah senyuman di wajah Muhammad Abdullah, dia melihat ibunya membelanya.

Minggu, 15 Juli 2012

Mengakhirkan dan Meninggalkan Sholat

Saudara-saudara Rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat kita pada Sholat Lima Waktu, Sholat Jum’at dan Sholat Berjamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat. Dan sholat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit. Rasulullah SAW bersabda, “Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (sholat) kepada Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Imam Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad) Orang yang meninggalkan sholat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan sholat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’, 4:103) Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khattab RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.” “Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap sholat. Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.” “Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar RA. Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.” Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya, “Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.” “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?” “Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan sholat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!” “Apa yang harus kubaca?” “Bacalah: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam, 19:59) “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan sholat?” “Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan sholat, mengakhirkan sholat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar (uang) lebih berharga daripada sholat.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan sholat.” Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah sholat. Jika sholat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk sholat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.” Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat. Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.” Rasulullah SAW bersabda, “Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR. Imam Baihaqi) “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR. Bazzar dari Abu Darda`), kafir yang dimaksud disini adalah ingkar terhadap perintah Allah karena perbuatan orang kafir adalah tidak pernah shalat. Dalam Shahih Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda yang membedakan antara orang beriman dengan orang kafir adalah shalat. Maka maukah kita disamakan dengan orang kafir, padahal Rasulullah saw bersabda”Barang siapa mengikuti kebiasaan suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. Orang2 kafir adalah orang yang tidak pernah shalat, maukah kita termasuk golongan mereka. “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan sholat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.” (HR. Thabrani) “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR. Imam Ahmad dan Baihaqi) “Allah telah mewajibkan sholat lima waktu kepada hamba-Nya. Barang siapa menunaikan sholat pada waktunya, maka di hari kiamat, sholat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Firaun dan Haman.” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad). Wasiat ini mudah-mudahan sangat bermanfaat buat kita semuanya umat Islam. Tugas kita semua untuk saling mengingatkan sesama Muslim akan pentingnya Sholat! *** Dikutip dari Kitab Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri Semoga bermanfaat, kiriman dari Sahabat

Jumat, 13 Juli 2012

PESANKAN SAYA TEMPAT DINERAKA ..!!!




Tags: cerita motivasi (1200), cerita islami (261), cerita hikmah (104), cerita nasehat (313), cerita teladan (334), kumpulan cerita motivasi (203), kisah islami(247), kisah teladan (331), kisah hikmah (110), kumpulan kisah teladan (263), artikel motivasi (2011), artikel islam (105), artikel kesehatan (211), kumpulan artikel motivasi (300), berita islami (2012), motivasi islam (2010),artikel kesehatan (500)

Sebuah kisah dimusim panas yang menyengat.
Seorang kolumnis majalah Al Manar mengisahkannya…
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus.
Ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat.
Karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan. Bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya. Disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Tahukah Anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yang sangat ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang.
"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!!
Sebuah respon yang sangat frontal. Dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Detik-detik berikutnya suasanapun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan dipenghujung tujuan. Di terminal akhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun.
Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang. Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya…. Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat… Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah… Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat denganNYA semakin dekat. Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar… Mumpung kesempatan itu masih ada.
Source:edieskurniawan@yahoo.com 



Selasa, 10 Juli 2012

CINTA SEORANG SUAMI


Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama
Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya , ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun badrest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari'ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari 'Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

Senin, 02 Juli 2012

Amru bin al-Jamuh


“Laki-laki tua yang bertekad menjejakkan kakinya yang pincang di surga.”

          Amru bin al-Jamuh, salah seorang pembesar Yatsrib di zaman Jahiliyah, seorang pemuka Bani Salamah yang terpandang, satu dari para dermawan Madinah dan pemillik muru’ah di sana.
          Sudah menjadi kebiasaan para pemuka suatu kaum di zaman jahiliyah, masing-masing dari mereka mempunyai sebuah berhala di rumahnya khusus untuk dirinya, demi meraup keberkahannya manakala hendak meninggalkan rumah dan masuk ke dalamnya, menyembelih untuknya di musim-musim tertentu dan berdoa kepadanya manakala kesulitan hidup menerpa.
          Berhala Amru bin al-Jamuh bernama Manat, dia membuatnya dari kayu mahal, dia sangat menjaga bahkan terkesan sangat berlebih-lebihan, memberinya kepedulian besar dan melumurinya dengan minyak wangi terbaik.
          Usia Amru bin al-Jamuh bukan lagi muda, dia sudah melewati enam puluh tahun ketika cahaya iman mulai menyinari rumah-rumah penduduk Yatsrib satu demi satu di tangan penyampai berita gembira pertama Mush’ab bin Umair. Tiga putra Amru bin al-Jamuh: Mu’awwidz, Muadz dan Khallad telah masuk Islam, demikian juga shahabat akrab mereka yang bernama Mu’adz bin Jabal.
          Keislaman tiga orang putra Amru diikuti oleh ibu mereka Hindun, sementara Amru belum mengetahui perkara keimanan mereka sama sekali.
          Hindun istri Amru bin al-Jamuh melihat bahwa Islam telah mewarnai kota Yatsrib, bahwa tidak ada lagi para pembesar Yatsrib yang tetap di atas kesyirikan kecuali suaminya dengan beberapa orang saja.
          Hindun menyintai suaminya, memuliakannya, sangat khawatir kalau suaminya mati di atas kekufuran, akibatnya dia akan menjadi penduduk neraka.
          Pada saat yang sama Amru juga khawatir terhadap anak-anaknya, kalau-kalau mereka meninggalkan agama leluhur, agama nenek moyang dengan mengikuti seruan da’i Mush’ab bin Umair yang telah mampu hanya dalam waktu yang singkat memalingkan penduduk Yatsrib dalam jumlah besar dari agama mereka dan membawa mereka kepada agama yang dibawa Muhammad Saw.
          Amru berkata kepada istrinya, “Hindun, berhati-hatilah, jangan sampai anak-anakmu bertemu dengan laki-laki itu, maksudnya adalah Mush’ab bin Umair- sampai kita memikirkan pendapat kita tentangnya.
          Isterinya menjawab, “Aku mendengar dan mematuhi kata-katamu, tetapi apakah engkau berkenan mendengar cerita tentang laki-laki itu dari puttramu Mu’adz?”
          Maka Amru berkata, “Celaka dirimu, apakah Mu’adz sudah meninggalkan agamanya sementara aku tidak mengetahuinya?”
          Maka wanita shalihah ini merasa kasihan kepada suaminya yang berumur ini, maka dia berkata, “Tidak, dia hanya menghadiri sebagian majlis laki-laki tersebut dan menghafal sebagian sebagian dari apa yang diucapkannya.”
          Amru berkata, “Panggil Mu’adz ke mari.”
          Ketika Mu’adz datang di depannya, Amru berkata, “Perdengarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.”
          Maka Mu’adz membaca surat al-Fatihah yang artinya:
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukkan kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
          Amru berkata, “Betapa bagus dan indahnya ucapan ini. Apakah semua ucapannya demikian?”
          Mu’adz, anaknya menjawab, “Ada yang lebih baik dari itu wahai bapakku, engkau harus mengikutinya, karena semua kaummu telah mengikutinya.”
          Laki-laki tua ini diam sesaat kemudian dia berkata, “Aku tidak memutuskan apapun sebelum meminta pendapat Manat, aku akan melihat apa yang dia katakan.”
          Mu’adz berkata, “Apa yang akan dikatakan oleh Manat wahai bapak, ia hanyalah kayu yang tuli, tidak berakal dan tidak bisa berbicara.”
          Laki-laki tua itu menjawab penuh kemarahan, “Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa pertimbangannya.”
          Amru bin al-Jamuh pun pergi menemui Manat. Jika orang-orang jahiliyah hendak berbicara kepada berhala mereka, maka mereka meminta seorang wanita tua untuk berdiri di belakang berhala tersebut, wanita inilah yang akan menyampaikan jawaban berhala menurut mereka-kepada siapa yang berbicara kepada berhala. Amru berdiri tegak di depan Manat, dia berpijak kepada kakinya yang sehat, karena kaki yang satunya lagi pincang, maka Amru memujinya dengan pujian yang baik. Kemudian dia berkata,
          “Wahai Manat, tidak ragu bahwa engkau telah mengetahui bahwa da’i tersebut telah datang kepada kami dari Makkah, dia tidak menginginkan keburukan bagi seseorang kecuali dirimu. Dia hanya datang untuk melarang kami untuk menyembahmu. Aku tidak ingin membaiatnya sekalipun aku telah mendengar sebagian dari ucapannya yang bagus sebelum aku meminta pendapatmu, maka katakan pendapatmu kepadaku.” Namun Manat tidak menjawab apapun.
          Amru berkata, “Mungkin kamu marah. Aku belum melakukan perbuatan apapun yang menyakitimu. Namun tidak mengapa, aku akan membiarkanmu beberapa hari sehingga kemarahanmu mereda.”
          Anak-anak Amru bin al-Jamuh mengetahui sejauh mana ketergantungan bapak mereka kepada berhalanya, Manat. Bagaimana Manat seiring dengan berjalannya waktu telah menjadi bagian darinya, namun mereka mengetahui bahwa kedudukan berhala ini sudah mulai goyah di dalam hati bapak mereka, saat ini mereka harus melepaskan hati bapak mereka dari Manat dengan kuat, itulah jalan iman bagi bapak mereka.
          Di suatu malam anak-anak Amru bin al-Jamuh bersama kawan mereka Mu’adz bin Jabal menyusup ke dalam ruangan dimana Manat disimpan, mereka membawanya dari tempatnya, kemudian membuangnya di tempat sampah milik Bani Salamah, lalu mereka pulang ke rumah tanpa ada seorang pun yang mengetahui apa yang mereka lakukan. Pagi tiba, Amru berjalan dengan tenang menuju berhalanya untuk mengucapkan salam kepadanya, namu dia tidak mendapatinya.
          Amru berkata, “Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar terhadap tuhanku tadi malam?” Tidak seorang pun dari penghuni rumah yang menjawab.
          Maka Amru mulai mencarinya di dalam dan di luar rumah sambil menahan amarah besar, mulutnya mengancam dan mengomel, sampai akhirnya dia menemukan Manat tersungkur di tempat sampah, dia mengambilnya dan mencucinya, membersihkannya dan memberinya minyak wangi, mengembalikannya ke tempatnya.
          Amru berkata kepada Manat, “Demi Allah, kalau aku mengetahui siapa yang melakukan hal itu kepadamu niscaya aku akan menghukumnya.”
          Malam berikutnya anak-anak Amru masuk ke tempat dimana Manat dismpan, mereka kembali melakukan apa yang mereka lakukan di malam sebelumnya. Pagi tiba, laki-laki tua ini mencari Manat dan menemukannya di tempat sampah dalam keadaan berlumur kotoran, dia mengambilnya, membasuhnya dan memberinya wewangian lalu mengembalikannya ke tempatnya.
          Anak-anak muda itu terus melakukan itu terhadap Manat setiap malam. Amru benar-benar jengkel dengan keadaan tersebut, maka sebelum tidur dia menghampiri Manat, membawa pedangnya dan menggantungkannya di pundaknya.
          Amru berkata kepadanya, “Wahai Manat, demi Allah, aku tidak mengetahui siapa yang melakukan itu terhadapmu, jika padamu terdapat kebaikan maka belalah dirimu dari keburukan ini, ini pedang bersamamu.” Kemudian Amru pergi ke tempat tidurnya.
          Begitu anak-anak muda itu yakin bahwa laki-laki tua itu telah lelap dalam tidurnya, mereka langsung mendekati berhala, mereka mengambil pedang dari pundaknya, membawanya keluar rumah, mengikatnya pada bangkai anjing pada seutas tali, lalu mereka membuangnya ke sebuah sumur milik Bani Salamah tempat permbuangan kotoran mereka.
          Laki-laki berumur ini bangun, dia tidak melihat Manat, dia keluar mencarinya, dia melihatnya tersungkur dengan kepala di bawah di sebuah sumur terikat dengan seekor bangkai anjing sementara pedang yang dia berikan kepadanya sudah tidak terlihat bersamanya, kali ini Amru tidak mengambilnya, dia meninggalkannya di tempat dia tercampakkan. Dia berkata,
Demi Allah, kalau kamu adalah tuhan yang benar niscaya Kamu tidak akan pernah terikat dengan tali bersama anjing di dalam sumur.”
          Tidak lama berslang. Amru pun masuk Islam.
Amru bin al-Jamuh meraskan manisnya iman, hal ini membuatnya menggigit jari penyesalan atas setiap saat yang dia habiskan dalam kesyirikan, dia menyambut agama barunya dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dia berikan harta, jiwa dan anak-anaknya demi menaati Allah dan Rasullnya.
          Saat perang Uhud. Amru bin al-Jamuh melihat ketiga anaknya bersiap-siap untuk menyambut musuh-musuh Allah. Dia melihat kepada mereka, hilir mudik seperti singa hutan dalam keadaan sangat merindukan syahadah dan keberuntungan meraih ridha Allah. Pemandangan itu memicu semangatnya, maka dia bertekad untuk berangkat bersama mereka ke medan jihad di bawah panji-panji Rasulullah Saw. Namun anak-anaknya berupaya untuk mencegah tekad bapak mereka.
          Bapaknya adalah laki-laki tua, berumur lanjut, di samping itu dia adalah laki-laki pincang, Allah Ta’ala memberinya uzur di antara orang-orang yang diberi uzur. Maka anak-anaknya berkata kepadanya, “Bapak, Allah telah memberimu uzur, mengapa engkau masih memaksakan diri dari apa yang tidak Allah wajibkan atasmu.”
          Bapak mereka marah besar atas ucapan anak-anaknya, dia berangkat kepada Nabi Saw untuk mengadukan mereka, dia berkata, “Wahai Nabiyullah, anak-anakku itu ingin mencegahku untuk meraih kebaikan besar ini, mereka beralasan bahwa aku pincang. Demi Allah aku ingin menjejakkan kakiku yang pincang ini di surga.”
          Rasulullah Saw bersabda kepada anak-anaknya, “Biarkan dia, semoga Allah Swt  memberinya syahadah.”
          Anak-anaknya pun membiarkannya demi menaati perintah Rasulullah Saw.
          Di saat keberangkatannya, Amru bin al-Jamuh mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya, seperti perpisahan orang yang pergi dan tidak akan kembali.
          Kemudian Amru menghadapkan wajahnya ke Qiblat, mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, berliah aku syahadah dan jangan biarkan aku pulang dengan tangan hampa.”
          Kemudian dia berangkat diiringi oleh ketiga anaknya serta kaumnya Bani Salamah dalam jumlah besar.
          Perang pun terjadi, ia mulai memuncak, kaum muslimin tercerai-berai dari Rasulullah Saw, pada saat itu Amru bin al-Jamuh terlihat teguh di tampatnya bersama para shahabat angkatan pertama, dia tegak dengan kakinya yang sehat sambil berkata, “Aku benar-benar merindukan surga. Aku benar-benar merindukan surga.”Khallad anaknya berada di belakangnya.
          Bapak dan anak terus berperang membela Rasulullah Saw sehingga keduanya gugur sebagai syahid di medan perang, jarak kematian bapak dengan anak hanya beberapa saat saja.
          Usai perang, Rasulullah Saw memeriksa para syuhada` Uhud untuk menguburkan mereka di liang lahad, beliau bersabda kepada shahabat-shahabat beliau, “Biarkan mereka dengan darah dan luka mereka, aku akan bersaksi untuk mereka.”
          Lalu Nabi Saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang terluka di jalan Allah, kecuali dia datang di hari kiamat dengan luka yang meneteskan darah, warnanya seperti za’faran dan baunya adalah bau minyak wangi misk.”
          Kemudia Nabi Saw bersabda, “Kuburkan Amru bin al-Jamuh dengan Abdullah bin Amru, keduanya saling menyintai dengan tulus di dunia.”
          Semoga Allah meridhai Amru bin al-Jamuh dan para shahabatnya dari para syuhada` Uhud dan menerangi kubur mereka.


Abu Ayyub al-Anshari


Khalid bin zaid al-Anshari
“Dikubur dibawah dinding Konstantinopel.”

          Shahabat yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin khubaib dari Bani an-Najjar. Adapun kun-yahnya maka dia adalah Abu Ayyub dengan penisbatan kepada Anshar.
          Siapa diantara kita kaum muslimin yang tidak mengenal Abu Ayyub al-Anshari?
          Allah telah meninggikan namanya di timur dan di barat, mengangkat kedudukannya di antara kaum muslimin ketika Allah Swt memilih rumahnya di antara rumah-rumah kaum muslimin  seluruhnya sebagai tempat tinggal Nabi Saw  yang mulia manakala beliau tiba di Madinah sebagai muhajir. Cukuplah hal itu sebagai sebuah kebanggaan.
          Dipilihnya oleh Rasulullah Saw rumah Abu Ayyub mempunyai kisah yang manis untuk dikenang dan nikmat untuk diulang.
          Ketika Nabi Saw tiba di Madinah, hati penduduknya menyambut beliau dengan penuh suka cita dan kemuliaan yang belum pernah diberika kepada pendatang.
          Mata mereka berbinar-binar, memancarkan cinta orang yang mencintai kepada kekasihnya.
          Mereka membuka hati untuk beliau agar pribadi beliau bersemayam di dalam lubuk hati yang paling dalam.
          Mereka membuka pintu rumah-rumah mereka dengan harapan beliau berkenan tinggal dan mendapatkan perlakuan paling mulia.
          Rasulullah Saw singgah di Quba di pinggir Madinah selama empat belas hari, selama itu beliau membangun masjid pertama yang didirikan atas ketakwaan.
          Kemudian beliau meninggalkannya dengan mengendarai unta beliau, para pemuka Yastrib pun berdiri di jalannya, setiap orang ingin meraih kemuliaan, ingin agar rumah mereka disinggahi Rasulullah Saw.
             Mereka berdiri di depan unta Nabi Saw, satu per satu , mereka berkata, “Tinggallah bersama kami wahai Rasulullah, kami mempunyai kekuatan orang, kekuatan senjata dan kesanggupan untuk melindungimu.”
          Maka Nabi Saw bersabda kepada mereka, “Biarkanlah unta ini berjalan karena dia mengikuti perintah.”
          Unta Nabi Saw terus berjalan menuju tujuan akhirnya, mata orang banyak mengikutinya, hati mereka mengelilinginya.
          Setiap unta itu melewati  sebuah rumah, pemiliknya pasti bersedih, penghuninya merasa kehilangan sesuatu, sementara pemilik rumah berikutnya berharap dengan cemas.
          Unta pun terus berjalan demikian, orang banyak berjalan mengikutinya, mereka sangat berkeinginan untuk mengetahui siapa gerangan yang berbahagia meraih karunia besar, sampai unta itu tiba di sebuah halaman kosong di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari dan menderum di sana.
          Namun Rasulullah Saw tidak turun darinya.
          Tidak lama berselang, tiba-tiba unta itu bangkit  dan berjalan sementara Rasulullah Saw melepas tali kekangnya. Namun setelah itu ia kembali ke tempat semula dan dia menderum lagi di sana.
          Pada saat itu kebahagiaan memayungi hati Abu Ayyub  al- Anshari, dia bergegas mendekat kepada Rasulullah Saw untuk menyambutnya, membawa perlengkapan beliau di depannya, seolah-olah dia membawa harta perbendaraan seluruhnya dan membawanya ke dalam rumahnya.
          Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Abu Ayyub mengosongkan bagian atas dari semua keperluan pribadinya dan keperluan isterinya agar Rasulullah Saw tinggal di sana.
          Namun Rasulullah Saw lebih memilih tinggal di bawah, maka Abu Ayyub menuruti kemauan Nabi Saw dan membiarkan beliau sesukanya.
          Malam pun tiba, Rasulullah Saw beranjak ke tempat tidur beliau, Abu Ayyub dan isterinya naik ke lantai atas, begitu Abu Ayyub menutup pintu, dia menoleh kepada istrinya dan berkata, “Celaka kita, apa yang kita lakukan? Pantaskah Rasulullah Saw di bawah sedangkan kita di atas? Apakah kita patut berjalan di atas Rasulullah Saw? Apakh kita berada di antara Nabi Saw dengan Wahyu? Kalau begini niscaya kita binasa.”
          Suami isteri itu terdiam kebingugan, keduanya tak tahu harus berbuat apa.
          Keduanya bisa sedikit lega manakala keduanya menepi ke sisi lain di mana Rasulullah Saw tidak berada di bawahnya, mereka berdua tetap di tempat itu tidak meninggalkannya kecuali dalam keadaan berjalan di pinggir  menjahui bagian tengah.
          Pagi tiba Abu Ayyub berkata kepada Nabi Saw, “Demi Allah ya Rasulullah, semalam kami tidak bisa tidur, tidak saya dan tidak pula Ummu Ayyub.”
          Nabi Saw pun bertanya, “Kenapa?”
          Abu Ayyub berkata, “Aku teringat bahwa aku berada di atas rumah di mana engkau berada di bawahnya, jika aku bergerak maka debu-debu akan berhamburan menimpamu, di samping itu aku berada di antara dirimu dengan wahyu.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Jangan pikirkan wahai Abu Ayyub, lebih muda bagiku kalau aku di bawah, karena banyak orang-orang yang hendak menemuiku.”
          Abu Ayyub berkata, aku menuruti perintah Rasulullah Saw, namu disuatu malam yang dingin, sebuah gentong air kami pecah, air berceceran di lantai atas, maka aku dan Ummu Ayyub mengambil selembar kain yang selama ini kami gunakan sebagai selimut, kami tidak memiliki selainnya, kami berusaha mengelap dan mengeringkan air dengan kain itu, kami khawatir ia akan menetes kepada Rasulullah Saw.
          Di pagi hari aku menemui Rasulullah Saw dan aku berkata kepada beliau, “Aku korbankan bapak dan ibukku demi dirimu ya Rasulullah, aku tetap tidak suka berada di atasmu dan engkau berada di bawahku.”
          Kemudian aku menceritakan berita gentong yang pecah, maka beliau menyanggupi dan beiau naik ke atas, aku dan Ummu Ayyub turun ke bawah.
           Nabi Saw tinggal di rumah Abu Ayyub selama kurang lebih tujuh bulan sampaim rampungnya pembangunan masjid di tanah kosong di mana unta Nabi Saw berhenti di sana. Beliau pindah ke kamar-kamarn yang di bangun di sekitar masjid untuk beliau dan ister-isteri beliau, Nabi Saw tetap menjadi tetangga bagi Abu Ayyub. Dua orang mulia yang saling bertetangga.
          Abu Ayyub menyintai Rasulullah Saw sepenuh cinta yang telah meresap ke dalam akal dan hatinya.Rasulullah Saw juga menyintai Abu Ayyub dengan cinta yang mengangkat sekat di antara beliau dengannya sehingga beliau melihat keluarga Abu Ayyub seperti keluarganya sendiri.
          Ibnu Abbas berkisah, dia berkata,
          Abu Bakar keluarke Masjid di suatu siang, Umar melihatnya, dia berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar di saat-saat seperti ini?”
          Abu Bakar menjawab, “Yang membuatku keluar tidak lain kecuali rasa lapar yang melilit perutku.”
           Umar berkata, “Sama dengan diriku, aku juga tidak keluar kecuali karena rasa lapar yang berat.”
          Ketika keduanya dalam keadaan demikian, Nabi Saw keluar dan bertemu dengan mereka berdua, Nabi Saw bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar di saat-saat seperti ini?”
          Keduanya menjawab, “Demi Allah, yang membuat kami keluar tidak lain kecuali rasa lapar berat yang mendera perut kami.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Aku demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak keluar kecuali karena itu pula. Bangkitlah bersamaku.
          Maka mereka berangkat dan mendatangi Abu Ayyub al-Ansahri. Abu Ayyu sendiri selalu menyimpan makanan untuk Rasulullah Saw. Jika Rasulullah Saw tidak datang kepadanya maka dia akan memberikannya kepada keluarganya.
          Manakala mereka medekati pintu, Ummu Ayyub menyambut mereka. Dia berkata, “Selamat datang kepada Nabi Saw dan orang-orang yang bersamanya.”
          Maka Nabi Saw bertanya, “Di mana Abu Ayyub?”
          Abu Ayyub yang sedang bekerja di kebun yang tidak jauh dari rumah mendengar suara Rasulullah Saw, maka dia bergegas datang dan berkata, “Selamat datang kepada Rasulullah Saw dan orang-orang yang bersamanya.” Kemudian Abu Ayyub menambahkan,
          Wahai Nabiyullah, ini bukan waktu di mana engkau biasa datang.”
          Nabi Saw menjawab, “Kamu benar.”
          Lalu Abu Ayyub pergi ke sebuah pohon kurma dan memotong salah satu janjang yang berisikan kurma segar, yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan).
          Nabi Saw bersabda, “Aku tidak ingin kamu memotongnya, mengapa kamu tidak memetik buahnya saja.”
          Abu Ayyub menjawab, “Ya Rasulullah, aku ingin engkau memakan buahnya, kurma segar yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan). Aku juga akan menyembelih kambing untukmu.”
          Nabi Saw bersabda, “Jangan menyembelih hewan perahan.”
          Maka Abu Ayyub pun menyembelih kambing muda dan dia berkata kepada istrinya, “Buatlah adonan dan roti untuk tamu kita. Kamu lebih tahu bagaimana membuatnya”. Abu Ayyub sendiri mengambil setengah dari kambing yang disembelihnya untuk kemudian memasaknya dan setengahnya lagi dia panggang. Manakala makanan sudah matang, dihidangkan di hadapan Nabi Saw dan kedua shahabatnya. Nabi Saw mengambil sepotong daging dan meletakkannya di atas sepotong roti, beliau bersabda, “Wahai Abu Ayyub, berikanlah ini dengan segera kepada Fatimah, karena dia tidak pernah makan seperti ini beberapa hari lamanya.”
          Lalu mereka makan sampai kenyang. Nabi Saw bersabda, “Roti, daging,kurma, kurma segar dan kurma setengah matang.”
          Tiba-tiba ledua mata Nabi Saw meneteskan air mata, kemudian beliau bersabda:
“Demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah kenikmatan dimana kalian akan ditanya tentangnya di hari Kiamat. Jika kalian mendapatkan seperti ini lalu kalian hendak menyantapnya maka ucapkanlah, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Jika kalian sudah kenyang maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat kami kenyang dan memberikan nikmat dengan berlimpah.”
          Kemudian Nabi Saw bangkit dan berkata kepada Abu Ayyub , “Datanglah kepada kami besok.”
          Nabi Saw tidak pernah diberi sebuah kebaikan oleh seseorang kecuali beliau ingin membalasnya. Namun Abu Ayyub tidak mendengar sabda Nabi Saw tersebut, maka Umar berkata kepadanya, “Nabi Saw memintamu untuk hadir kepada beliau besok wahai Abu Ayyub.”
          Maka Abu Ayyub berkata, “Aku mendengar dan menaati undangan Rasulullah Saw.
          Besoknya Abu Ayyub datang kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw memberinya seorang hamba sahaya kecila yang biasa membantu beliau. Nabi Saw bersabda kepadanya, “Berbaik-baiklah kepadanya wahai Abu Ayyub, kami tidak melihat darinya kecuali kebaikan selama dia bersama kami.”
          Abu Ayyub pulang ke rumah dengan membawa seorang hamba sahaya. Manakala Ummu Ayyub melihatnya dia bertanya, “Milik siapa dia wahai Abu Ayyu?”
          Abu Ayyub menjawab, “Milik kita, hadiah dari Rasulullah Saw kepada kita.”
          Isterinya berkata, “Hadiah yang sangat berharga dan pemberian yang sangat mulia.
          Abu Ayyub berkata, “Nabi Saw memintaku untuk berbuat baik kepadanya.”
          Ummu Ayyub bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan sehingga kamu bisa melaksanakan permintaan Nabi Saw tersebut?”
          Abu Ayyub menjawab, “Demi Allah, tidak ada cara yang lebih baik untuk melaksanakan wasiat Rasulullah Saw selain memerdekakannya.”
          Umma Ayyub berkata, “Kamu telah dibimbing kepada kebenaran, kamu telah diberi taufiq.” Kemudian Abu Ayyub memerdekakannya.
          Ini sebagian dari kehidupan Abu Ayyub al-Anshari dalam kesehariannya. Kalau anda mempunyai kesempatan untuk melihat sebagian kehidupannya di medan perang niscaya Anda akan melihat keajaiban.
          Dia tidak pernah tertinggal dalam satu peperangan pun sejak zamanRasulullah Saw sampai zaman Mu’awiyah kecuali jika dia mempunyai kesibukan yang lainnya (yang syar’i harus didahulukan).
          Perang terakhir yang diikuti oleh Abu Ayyub adalah ketika Mu’awiyah menyiapkan bala tentara dengan komando putranya Yazid untuk menaklukan Konstatinopel. Pada saat itu Abu Ayyub sudah menjadi seorang laki-laki tua berumur lanjut, usianya mendekati delapan puluh. Namun hal itu bukan penghalang baginya untuk bergabung di bawah panji-panji Yazid dan meretas ombak lautan sebagai seorang mujahid di jalan Allah.
          Namun tidak lama berselang setelah peperangan dimulai, Abu Ayyub sakit yang membuatnya tidak kuasa untuk meneruskan peperangan. Yazid datang kepadanya untuk menjenguknya. Yazid bertanya, “Apakah engkau mempunyai suatu permintaan wahai Abu Ayyub?”
          Abu Ayyub menjawab, “Sampaikan salamku kepada bala tentara kaum muslimin dan katakan kepada mereka, ‘Abu Ayyub mewasiatkan kepada kalian agar kalian masuk ke bumi musuh sejauh mungkin, membawa jasadnya bersama mereka lalu menguburkannya di bawah telapak kaki kalian di pagar kota Konstatinopel.”
          Lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya.
          Bala tentara kaum muslimin melakukan permintaan Abu Ayyub seorang shahabat Rasulullah Saw, mereka menyerang pasukan musuh berkali-kali sampai mereka tiba di benteng kota Konstatinopel dalam keadaan membawa jasad Abu Ayyub.
          Di sana mereka menggali dan menguburkannya.
          Semoga Allah merahmati Abu Ayyub al-Anshari, dia menolak kecuali wafat di atas punggung kuda yang kuat sebagai seorang mujahid di jalan Allah dalam usia mendekati delapan puluh tahun.
          

Tsumamah bin Utsal


“Menetapkan embargo ekonomi atas orang-orang kafir Quraisy.”

          Di tahun keenam hijriyah, Rasulullah Saw berniat memperluas wilayah cakupan dakwah beliau kepada Allah, maka beliau menulis delapan surat kepada raja-raja Arab dan Ajam. Nabi Saw mengirimkan kepada mereka untuk menyeru mereka kepada Islam.
          Di antara orang yang mendapat surat Rasulullah Saw adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi.
          Tidak mengherankan karena Tsumamah adalah salah seorang permbesar orang-orang Arab di zaman Jahiliah.
          Salah seorang pembuka Bani Hanifah yang terpandang.
          Salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.
          Tsumamah menerima surat Nabi Saw dengan sikap angkuh dan melecehkan. Harga dirinya kepada dosa terpicu, maka menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu.
           Kemudian setan menguasai Tsumamah, dia membujuknya agar ia membunuh Rasulullah Saw dan mengubur dakwahnya bersamanya. Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi Saw sampai dia mendapatkan kesempatan itu. Kejahatan buruk ini hampir terlaksana jika salah seorang paman Tsumamah tidak mengurungkan niat Tsumamah di kesempatan terakhirnya, sehingga Allah menyelamatkan Nabi Saw dari keburukannya.
          Tsumamah, bila dia bisa menghentikan niat jahatnya terhadap Nabi Saw, namun dia tidak bisa menghentikannya pada dari para shahabat Nabi Saw. Tsumamah mengincar mereka, sehingga dia berhasil menangkap beberapa orang dari mereka dan membunuh mereka secara emosional, sehingga Nabi Saw menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para shahabatnya.
          Tidak lama setelah itu Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Makkah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan Thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.
          Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Makkah di dekat kota Madinah, dia mendapatkan sebuah musibah yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
          Sebuah pasukan Rasulullah Saw yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah, yang bertugas menjaga keamanannya dari serangan mandadak dari musuh atau melindunginya dari pelanggaran orang yang membawa keburukan, memergoki perjalanan Tsumamah.
          Pasukan ini menawannya, sementara mereka tidak mengenal siapa dia, pasukan ini membawanya ke Madinah, mengikatnya di salah satu tiang masjid, menunggu Rasulullah Saw yang akan melihat perkara tawanan ini dan menetapkan perintahnya padanya.
         Manakala Nabi Saw pergi ke masjid, dan hampir masuk kedalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”
          Merka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”
          Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”
          Kemudian Rasulullah Saw pulang ke keluarga beliau seraya bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkanlah kepada Tsumamah bin Utsal.”
          Kemudian Nabi Saw memerintahkan agar unta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.
          Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah Saw bertemu dengannya dan sebelum beliau berbicara kepadanya.
          Selanjutnya Nabi Saw menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”
          Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah, namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang berterimakasih. Jika kamu ingin harta maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”
          Nabi Saw membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu unta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi Saw menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”
          Tsumamah menjawab, “Aku hanya mempunyai apa yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang berterimakasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah. Jika kamu menginginkan harta  maka mintalah niscaya kami akan memberi seberapa saja yang kamu mau.”
          Lalu Rasulullah Saw melihat para shahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.” Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya.
          Tsumamah meninggalkan masjid Rasulullah Saw , dia berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggir Madinah dekat al-Baqi yang ada mata airnya. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya menuju masjid.
          Begitu tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum muslimin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”
Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi Saw dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai.”
          Kemudian dia menambahkan, “Dulu aku pernah membunuh beberapa orang dari shahaba-shahabatmu, apa yang harus aku pukul karenanya?”
          Nabi Saw menjawab, “Tidak ada dosa atasmu wahai Tsumamah,karena Islam menghapus apa yang sebelumnya.”
          Nabi Saw menyampaikan berita gembira berupa kebaikan yang Allah tetapkan karena keislamannya.
          Maka wajah Tsumamah berbinar, dia berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan terhadap orang-orang musyrikin sesuatu yang jauh lebih berat dari pada apa yang telah aku lakukan terhadap shahabat-shahabatmu. Aku meletakkan pedangku, jiwaku dan orang-orangku demi mebelamu dan membela agamamu.”
          Kemudian Tsumamah berkata, “Ya Rasulullah, pasukanmu menagkapku, pada saat itu aku hendak melaksanakan umrah, menurutmu apa yang aku lakukan?”
          Nabi Saw menjawab, “Teruskan Umrahmu namun di atas syariat Allah dan Rasulnya.” Lalu Nabi Saw mengajarkan manasik umrah kepadanya.
          Tsumamah melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan niatnya, dia tiba di lembah Makkah, maka dia berdiri mengangkat suaranya dengan lantang, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syrika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”
          Muslim pertama di muka bumi yang masuk Makkah dengan bertalbiyah.
          Orang-orang Quraisy mendengar suara talbiyah, maka mereka berhamburan keluar penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, pedang-pedang ditarik dari sarungnya, mereka menuju sumber suara untuk membuka pemiliknya yang telah menganggu kandang mereka.
          Manakala orang-orang datang kepada Tsumamah, dia pun lebih meninggikan suara talbiyahnya sambil memandang mereka penuh dengan kebanggaan. Beberapa anak muda Quraisy berniat melepaskan anak panah kepadanya, namun para pemuka Quraisy mencegah mereka. Para pemuka Quraisy berkata, “Celaka kalian, Apakah kalian tahu siapa orang ini? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, raja Yamamah, demi Allah, kalau kalian mencelakainya niscaya kaumnya akan memutuskan pengiriman gandum kepada kita, akibatnya kita akan mati kelaparan.”
          Kemudian orang-orang datang mendekati Tsumamah setelah mereka memasukkan pedang-pedang ke dalam sarung masing-masing, mereka bertanya, “Ada apa denganmu wahai Tsumamah? Apakah kamu telah menjadi shabi` dan meninggalkan agamamu dan agama leluhurmu.
          Maka dia menjawab, “Aku tidak menjadi shabi`, tetapi aku mengikuti agama terbaik, aku mengikuti Muhammad.”
          Tsumamah menambahkan, “Aku bersumpah demi Ilah Ka’bah ini, setelah aku pulang ke Yamamah tidak ada lagi pengiriman sebiji gandum pun atau sebagian dari hasil buminya sebelum kalian semuanya mengikuti Muhammad.”
          Tsumamah bin Utsal melaksanakan umrah dihadapan orang-orang Quraisy seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw.
          Dia menyembelih dam untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk berhala-berhala. Setelah dia tiba di tengah kaumnya, dia memerintahkan mereka agar menahan gandum dari orang-rang Quraisy, mereka pun menaari dan mengikuti perintahnya, mereka menahan hasil bumi mereka dari orang-orang Makkah.”
          Embargo yang ditetapkan oleh Tsumamah atas Quraisy mulai berdampak terhadap mereka sedikit demi sedikit, harga makanan mulai melambung, kelaparan mulai menyebar di kalangan masyarakat, kesulitan mendera mereka sehingga mereka khawatir atas diri mereka dan anak-anak mereka akan mati kelaparan.
          Pada saat itu mereka menulis surat kepada Rasulullah Saw yang isinya:
“Yang kami tahu tentangmu adalah bahwa kamu penyambung tali silaturrahim dan memerintahkan untuk melakukannya. Namun sekarang kamu telah memutuskan rahim-rahim kami, kamu membunuh bapak-bapak kami dengan pedang dan mematikan anak-anak kami dengan kelaparan. Tsumamah bin Utsal telah mengutus pengiriman gandum sehingga hal itu menyulitkan bagi kami. Jika kamu berkenan untuk menulis kepadanya agar dia mengirim apa yang kami perlukan maka lakukanlah.”
          Nabi Saw menulis kepada Tsumamah agar mengirimkan kembali gandum kepada orang Quraisy maka dia pun melakukannya.
          Tsumamah bin Utsal selama hidupnya tetap setia kepada agamanya, menjaga janjinya kepada Nabi Saw. Manakala Rasulullah Saw wafat dan orang-orang Arab mulai murtad meninggalkan Islam, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dan Msailamah muncul di antara Bani Hanifah menyeru mereka agar beriman kepadanya, Tsumamah menghadangnya, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, jauhilah perkara gelap yang tidak mempunyai cahaya ini. Demi Allah ia adalah kesengsaraan yang Allah Swt tetapkan atas siapa yang mengambilnya dari kalian dan ujian bagi siapa yang tidak mengambilnya.”
          Kemudian dia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak berkumpul dua orang Nabi dala satu waktu. Bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang tiada Nabi sesudahnya, tiada Nabi yang berserikat dengannya.”
          Kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala:
“Haa Miim. Al-Quran ini di turunkan dari Allahyang maha Perkasa lagi maha mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumNya yang mempunyai karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepadaNyalah semua makhluk kembali.” (QS. Ghafir: 1-3)
          Kemudian dia berkata, “Bagaimna mungkin firman Allah Ta’ala ini dibandingkan dengan ucapan Musailamah, “Wahai kodok, bersihkanlah apa yang kamu bersihkan, bukan makanan yang kamu halangi dan bukan air yang kamu keruhkan.”
          Kemudian Tsumamah menyingkir bersama orang-orang  yang masih memegang Islam dari kaumnya, dia berperang melawan orang-orang murtad demi menegakkan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimatNya di muka bumi.
          Semoga Allah membalas Tsumamah bin Utsal atas jasa kebaikannya kepada Islam dan kaum muslimin dengan kebaikan serta memuliakannya dengan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa.