Ya Allah Izinkan Aku untuk beribadah di Tanah Suci... Aamiin

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi Saw. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi Saw. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Abdullah bin Jahsy


“Orang pertama yang dipanggil Amirul Mukminin.”


           Shahabat yang sejarah hidupnya sedang menjadi bahan kajian kita saat ini sangat erat hubungannya dengan Rasulullah Saw, satu dari para shahabat beliau yang masuk Islam di awal-awal perjuangan beliau.
          Dia adalah sepupu beliau, karena ibu shahabat ini Umaimah binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah Saw.
          Disamping itu shahabat ini adalah ipar Rasulullah Saw karena saudaranya  Zaenab binti Jahsy adalah satu dari istri-istri Nabi Saw, salah seorang Ummahatul Mukminin.
          Shahabat ini adalah orang pertama yang mengibarkan panji Islam.
          Setelah itu dia adalah orang pertama yang dipanggil Amirul Mukminin.
          Dia adalah Abdullah bin Jahsy al-Asadi.
          Abdullah bin Jahsy masuk Islam sebelum Rasulullah Saw masuk ke Darul Arqam, sehingga dia termasuk Assabiqunal Awwalun.
          Manakala Nabi Saw memberikan kepada para shahabat yang masuk Islam untuk hijrah ke Madinah demi menyelamatkan agama mereka dari finah orang-orang Quraisy, Abdullah bin Jahsy adalah orang kedua yang berangkat, sedangkan orang pertama adalah Abu Salamah.
          Hijrah kepada Allah , meninggalkan negeri dan keluarga demi Allah bukan sesuatu yang baru bagi  Abdullah bin Jahsy, sebelumnya dia dan beberapa keluarganya sudah merasakan hijrah ke Habasyah.
          Namun hijrah kali ini lebih menyeluruh dan lebih luas, dia berhijrah bersama istrinya dan kerabatnya serta saudara-saudaranya, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua dan anak-anak muda, wanita muda dan wanita tua, keluarga Abdullah adalah keluarga Islam, kabilahnya adalah kabilah Iman.
          Mereka meninggalkan Makkah , bekas perkampungan mereka terlihat sepi dan sedih. Berubah menjadi hunian kosong melompong seolah-olah tidak pernah ada yang menghuninya sebelumnya, seolah-olah tidak pernah dijamah oleh tangan orang-orang yang begadang di malam hari.
          Tidak berselang lama dari keberangkatan Abdullah bin Jahsy bersama kaum kerabatnya untuk berhijrah, para pemuka Quraisy berkeliling disekitar Makkah untuk mengetahui kaum muslimin yang sudah meninggalkannya dan kaum muslimin yang masih tinggal, diantara para pemuka Makkah tersebut terdapat Abu Jahal dan Utbah bin Rabi’ah.
           Utbah melihat kepada perkampungan Bani Jahsy, angin bertiup kencang membawa debu menerpanya, daun pintu rumahnya bergerak-gerak. Utbah berkata, “Perkampungan Bani Jahsy sudah kosong menangisi penghuninya.”
          Abu Jahal menjawab, “Siapa mereka sehingga perkampungan sampai menangisi mereka?”
          Kemudian Abu Jahal meletakkan tangannya di rumah Abdullah bin Jahsy, rumah yang paling bagus dari penghuni paling kaya di perkampungan situ, Abu Jahal mulai bertindak terhadap perabotnya seolah-olah dia adalah pemiliknya yang sah.
          Manakala apa yang dilakukan oleh Abu Jahal ini terdengar Abdullah, dia menyampaikan kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw bersabda kepadanya, “Wahai Abdullah, apakah kamu tidak rela kalau Allah memberimu sebuah rumah di surga dengannya kelak?”
          Abdullah menjawab, “Ya wahai Rasulullah .”
          Nabi Saw bersabda, “Itu untukmu.”
          Maka Abdullah pun rela dan tenang.
          Abdullah bin Jahsy belum menetap dengan tenang di Madinah setelah sebelumnya dia memikul kesulitan dalam dua hijranya, hijrah pertama dan hijrah kedua.
          Abdullah belum mencicipi nikmatnya hidup di bawah kebaikan orang-orang Anshar setelah sebelumnya dia mengenyam penyiksaan dari orang-orang Quraisy sehingga Allah Swt menghendaki Abdullah masuk ke dalam sebuah ujian terberat yang belum pernah dia rasakan dalam kehidupannya memikul cobaan terkeras yang dia dapatkan sejak dia masuk Islam.
          Rasululllah Saw memilih delapan orang dari para shahabatnya untuk menunaikan tugas militer pertama dalam islam, diantara mereka adalah Abdullah bin Jahsy dan Saad bin Abu Waqash. Nabi Saw berabda, “Aku akan menjadikan orang yang paling kuat menahan lapar dan haus sebagai  pemimpin kalian. “ Kemudian Nabi Saw meyerahkan panji-panji komando kepada Abdullah bin Jahsy, dengan itu Abdullah menjadi komandan pertama bagi sekelompok orang-orang mukmin.
          Rasulullah Saw menentukan tujuan perjalanan Abdullah, beliau memberinya sepucuk surat dan memintanya untuk tidak membukanya kecuali setelah berjalan dua hari.
          Dua hari pasukan yang dipimpin oleh Abdullah ini berjalan, kemudian Abdullah membuka surat Rasulullah Saw. Ternyata isinya:
“ Jika kamu membaca suratku ini maka tetaplah berjalam sehingga kamu tiba di Naklah di antara Thaif dengan Makkah, awasi orang-orang Quraisy, sampaikan berita mereka kepadaku.”
          Begitu Abdullah membaca surat, maka dia berkata:
          “Kami mendengar dan menaati Rasulullah Saw.”
          Kemudian dia berkata kepada anak buahnya, “Rasulullah Saw memerintahku untuk berangkat ke Nakhlah untuk mengawasi orang-orang Quraisy sehingga aku bisa menyampaikan berita mereka kepada beliau. Rasulullah Saw melarangku untuk memaksa siapapun dari kalian untuk tetap berangkat bersamaku, siapa diantara kalian yang ingin meraih syahadah dan berminat mendapatkannya maka silahkan mengikutiku, namun siapa yang tidak ingin maka silahkan dia kembali tanpa ada kesalahan yang ditanggungnya.”
          Anak buahnya pun berkata, “Kami mendengar dan menaati Rasulullah Saw, kami akan tetap bersamamu sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw.”
          Kemudian mereka berjalan sampai tiba di Nakhlah, mereka melakukan patroli di daerah sekitarnya untuk mengetahui berita orang-orang Quraisy.
          Di saat mereka sedang melakukan tugas itu, tiba-tiba mereka melihat dari jauh sebuah kafilah dagang milik Quraisy dengan dikawal oleh empat orang, mereka adalah Amru bin al-Hadhrami, al-Hakam bin Kaisan, Usman bin Abdullah dan saudaranya al-Mughirah, mereka membawa perniagaan Quraisy yang terdiri dari kulit, kismis dan barang-barang lainnya yang merupakan barang dagangan mereka.
          Pada saat itu para shahabat bermusyawarah di antara mereka, hari itu adalah hari terakhir di bulan haram. Mereka berkata, “Jika kita memerangi mereka maka kita memerangi mereka di bulan haram, jika hal itu kita lakukan maka kita tidak menghormati kehormatan bulan muharam, disamping itu perbuatan kita akan mengundang cibiran dari orang-orang Arab seluruhnya. Namun jika kita membiarkan mereka sampai hari ini berlalu maka mereka akan masuk wilayah haram dan mereka telah masuk ke dalam wilayah aman.
          Mereka terus berunding sampai akhirnya mereka sepakat untuk menyerang mereka dan membunuh mereka serta mengambil harta rampasan dari tangan mereka, dalam sekejap mereka membunuh satu orang dari mereka yaitu Amru bin al-Hadhrami dan menawan dua orang, oran keempa berhasil lolos dari sergapan mereka.
          Abdullah bin Jahsy dan orang-orangnya menggiring dua tawanan dan kafilah dagang ke Madinah, manakala mereka bertemu dengan Rasulullah Saw, beliau tidak menyetujui apa yang dia lakukan, beliau mengingkari perbuatan mereka dengan keras, beliau bersabda, “Demi Allah, aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang, akan tetapi aku hanya memerintahkan kalian untuk mengetahui berita orang-orang Quraisy dan mengawasi gerak-gerik mereka.”
          Nabi Saw membiarkan dua orang tawanan sebelum menetapkan keputusannya, beliau tidak mengutak-atik kafilah dagang dengan tidak mengambil apapun darinya.
          Pada saat itu Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar, mereka yakin akan binasa karena menyelisihi perintah Rasulullah saw.
          Persoalannya menjadi semakin berat bagi mereka manakala kaum muslimin pun mulai menyalahkan mereka dan mencela kekeliruan mereka setiap kali mereka melihatnya, mereka berkata, “Orang-orang yang telah menyelisihi perintah Rasulullah Saw.
          Kesulitan yang mereka hadapi semakin berat manakala mereka mengetahui bahwa orang-orang Quraisy menjadikan peristiwa tersebut sebagai batu loncatan untuk menghina Rasulullah Saw, merusak nama baiknya di hadapan kabilah-kabilah  Arab. Orang-orang Quraisy berkata, “Muhammad telah menghalalkan bulan haram, dia menumpahkan darah di dalamnya, merampas harta dan menawan orang-orang kita.
          Jangan bertanya betapa sedihnya Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya atas apa yang terjadi pada mereka, jangan bertanya betapa malunya mereka di depan Rasulullah Saw karena mereka telah menjerumuskan beliau ke dalam kesulitan.
          Ketika masalah tersebut semakin berat bagi mereka, dan ujian ini semakin sulit bagi mereka, tiba-tiba berita gembira datang, berita gembira bahwa Allah meridhai apa yang mereka lakukan, bahwa Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an kepada Nabi Saw terkati dengan peristiwa tersebut.
          Betapa bahagia hati mereka, orang banyak berdatangan mengucapkan salam, merangkul dan menjabat tangan mereka sambil  membaca al-Qur’an yang diturunkan terkait dengan mereka.
          Telah turun kepada Nabi Saw firman Allah Ta’ala :
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi masuk Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar dosanya di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada membunuh. “  (QS. Al-Baqarah: 217 )
          Manakala ayat yang mulia ini turun, jiwa Rasulullah Saw menjadi tenang, beliau mengambil harta kafilah dan meminta tebusan terhadap dua tawanan, beliau rela terhadap apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy dan anak buahnya. Perbuatan mereka merupakan peristiwa besar dalam kehidupan kaum muslimin.
          Harta rampasannya adalah harta rampasan pertama yang diraih oleh kaum muslimin.
          Korbannya adalah orang musyrik pertama yang darahnya ditumpahkan oleh kaum muslimin.
          Kedua tawanannya adalah dua tawanan pertama yang ditawan oleh kaum muslimin.
          Panji-panjinya adalah panjji-panji pertama yang dikibarkan oleh tangan Rasulullah saw.
          Panglimanya Abdullah bin Jahsy adalah orang pertama yang dipanggil Amirul Mukminin.
          Setelah itu perang Badar tiba, dalam perang ini Abdullah memperlihatkan kepahlawanannya sesuai dengan keimanannya.
          Kemudian perang Uhud tiba, Abdullah bin Jahsy dan kawannya Sa’ad bin Abu Waqqash dalam perang ini mempunyai cerita yang tidak terlupakan. Biarkan kesempatan ini kita berikan  kepada Saad, biar dia sendiri yang menyampaikan ceritanya dan cerita kawannya.
          Saad bin Abu Waqqash berkata, “Di perang Uhud, aku bertemu dengan Abdullah bin Jahsy, dia berkata, “Berdoalah kepada Allah.” Aku menjawab, “Ya.” Lalu kami menepi di sebuah tempat, aku berdoa kepada Allah, aku berkata dalam doaku, “ Ya Rabbi, jika aku bertemu musuh maka pertemukan aku dengan seorang laki-laki yang kuat lagi berani, aku akan melawannya dan dia melawanku, kemudian limpahkan kemenangan kepadaku sehingga aku bisa membunuhnya dan mengambil hartanya.” Abdullah bin Jahsy mengamini doaku. Lalu dia sendiri berkata, “Ya Allah, pertemukan aku dengan seorang laki-laki yang kuat lagi berani, aku akan melawannya demi Engkau dan dia melawanku, kemudian dia menangkapku, memotong hidung dan telingaku, jika aku bertemu denganMu besok, maka Engkau akan bertanya kepadaku, ‘Kenapa hidung dan telingamu terpotong?’ Maka aku menjawab, ‘Karena Engkau dan RasulMu. ‘Engkau berkata, ‘Kamu benar.”
          Saad bin Abu Waqqash berkata, “Doa Abdullah bin Jahsy lebih baik dari doaku, aku melihatnya di sore hari dalam keadaan sudah syahid dalam keadaan dicincang-cincang, hidung dan telinganya tergantung dengan sebuah tali di pohon.”
          Allah Ta’ala menjawab doa Abdullah bin Jahsy, Dia memuliakannya dengan syahadah seperti Dia telah memuliakan pamannya Sayyid para syuhada` Hamzah bin Abdul Mutthalib dengannya.
          Lalu Rasulullah Saw menguburkan keduanya dalam satu liang lahad sementara air mata beliau yang suci menitik ke tanah kubur mereka berdua yang beraromakan bau harum syahadah.
          



Senin, 02 Juli 2012

Amru bin al-Jamuh


“Laki-laki tua yang bertekad menjejakkan kakinya yang pincang di surga.”

          Amru bin al-Jamuh, salah seorang pembesar Yatsrib di zaman Jahiliyah, seorang pemuka Bani Salamah yang terpandang, satu dari para dermawan Madinah dan pemillik muru’ah di sana.
          Sudah menjadi kebiasaan para pemuka suatu kaum di zaman jahiliyah, masing-masing dari mereka mempunyai sebuah berhala di rumahnya khusus untuk dirinya, demi meraup keberkahannya manakala hendak meninggalkan rumah dan masuk ke dalamnya, menyembelih untuknya di musim-musim tertentu dan berdoa kepadanya manakala kesulitan hidup menerpa.
          Berhala Amru bin al-Jamuh bernama Manat, dia membuatnya dari kayu mahal, dia sangat menjaga bahkan terkesan sangat berlebih-lebihan, memberinya kepedulian besar dan melumurinya dengan minyak wangi terbaik.
          Usia Amru bin al-Jamuh bukan lagi muda, dia sudah melewati enam puluh tahun ketika cahaya iman mulai menyinari rumah-rumah penduduk Yatsrib satu demi satu di tangan penyampai berita gembira pertama Mush’ab bin Umair. Tiga putra Amru bin al-Jamuh: Mu’awwidz, Muadz dan Khallad telah masuk Islam, demikian juga shahabat akrab mereka yang bernama Mu’adz bin Jabal.
          Keislaman tiga orang putra Amru diikuti oleh ibu mereka Hindun, sementara Amru belum mengetahui perkara keimanan mereka sama sekali.
          Hindun istri Amru bin al-Jamuh melihat bahwa Islam telah mewarnai kota Yatsrib, bahwa tidak ada lagi para pembesar Yatsrib yang tetap di atas kesyirikan kecuali suaminya dengan beberapa orang saja.
          Hindun menyintai suaminya, memuliakannya, sangat khawatir kalau suaminya mati di atas kekufuran, akibatnya dia akan menjadi penduduk neraka.
          Pada saat yang sama Amru juga khawatir terhadap anak-anaknya, kalau-kalau mereka meninggalkan agama leluhur, agama nenek moyang dengan mengikuti seruan da’i Mush’ab bin Umair yang telah mampu hanya dalam waktu yang singkat memalingkan penduduk Yatsrib dalam jumlah besar dari agama mereka dan membawa mereka kepada agama yang dibawa Muhammad Saw.
          Amru berkata kepada istrinya, “Hindun, berhati-hatilah, jangan sampai anak-anakmu bertemu dengan laki-laki itu, maksudnya adalah Mush’ab bin Umair- sampai kita memikirkan pendapat kita tentangnya.
          Isterinya menjawab, “Aku mendengar dan mematuhi kata-katamu, tetapi apakah engkau berkenan mendengar cerita tentang laki-laki itu dari puttramu Mu’adz?”
          Maka Amru berkata, “Celaka dirimu, apakah Mu’adz sudah meninggalkan agamanya sementara aku tidak mengetahuinya?”
          Maka wanita shalihah ini merasa kasihan kepada suaminya yang berumur ini, maka dia berkata, “Tidak, dia hanya menghadiri sebagian majlis laki-laki tersebut dan menghafal sebagian sebagian dari apa yang diucapkannya.”
          Amru berkata, “Panggil Mu’adz ke mari.”
          Ketika Mu’adz datang di depannya, Amru berkata, “Perdengarkanlah kepadaku sebagian dari apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.”
          Maka Mu’adz membaca surat al-Fatihah yang artinya:
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya Engkaulah Kami meminta pertolongan. Tunjukkan kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
          Amru berkata, “Betapa bagus dan indahnya ucapan ini. Apakah semua ucapannya demikian?”
          Mu’adz, anaknya menjawab, “Ada yang lebih baik dari itu wahai bapakku, engkau harus mengikutinya, karena semua kaummu telah mengikutinya.”
          Laki-laki tua ini diam sesaat kemudian dia berkata, “Aku tidak memutuskan apapun sebelum meminta pendapat Manat, aku akan melihat apa yang dia katakan.”
          Mu’adz berkata, “Apa yang akan dikatakan oleh Manat wahai bapak, ia hanyalah kayu yang tuli, tidak berakal dan tidak bisa berbicara.”
          Laki-laki tua itu menjawab penuh kemarahan, “Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa pertimbangannya.”
          Amru bin al-Jamuh pun pergi menemui Manat. Jika orang-orang jahiliyah hendak berbicara kepada berhala mereka, maka mereka meminta seorang wanita tua untuk berdiri di belakang berhala tersebut, wanita inilah yang akan menyampaikan jawaban berhala menurut mereka-kepada siapa yang berbicara kepada berhala. Amru berdiri tegak di depan Manat, dia berpijak kepada kakinya yang sehat, karena kaki yang satunya lagi pincang, maka Amru memujinya dengan pujian yang baik. Kemudian dia berkata,
          “Wahai Manat, tidak ragu bahwa engkau telah mengetahui bahwa da’i tersebut telah datang kepada kami dari Makkah, dia tidak menginginkan keburukan bagi seseorang kecuali dirimu. Dia hanya datang untuk melarang kami untuk menyembahmu. Aku tidak ingin membaiatnya sekalipun aku telah mendengar sebagian dari ucapannya yang bagus sebelum aku meminta pendapatmu, maka katakan pendapatmu kepadaku.” Namun Manat tidak menjawab apapun.
          Amru berkata, “Mungkin kamu marah. Aku belum melakukan perbuatan apapun yang menyakitimu. Namun tidak mengapa, aku akan membiarkanmu beberapa hari sehingga kemarahanmu mereda.”
          Anak-anak Amru bin al-Jamuh mengetahui sejauh mana ketergantungan bapak mereka kepada berhalanya, Manat. Bagaimana Manat seiring dengan berjalannya waktu telah menjadi bagian darinya, namun mereka mengetahui bahwa kedudukan berhala ini sudah mulai goyah di dalam hati bapak mereka, saat ini mereka harus melepaskan hati bapak mereka dari Manat dengan kuat, itulah jalan iman bagi bapak mereka.
          Di suatu malam anak-anak Amru bin al-Jamuh bersama kawan mereka Mu’adz bin Jabal menyusup ke dalam ruangan dimana Manat disimpan, mereka membawanya dari tempatnya, kemudian membuangnya di tempat sampah milik Bani Salamah, lalu mereka pulang ke rumah tanpa ada seorang pun yang mengetahui apa yang mereka lakukan. Pagi tiba, Amru berjalan dengan tenang menuju berhalanya untuk mengucapkan salam kepadanya, namu dia tidak mendapatinya.
          Amru berkata, “Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar terhadap tuhanku tadi malam?” Tidak seorang pun dari penghuni rumah yang menjawab.
          Maka Amru mulai mencarinya di dalam dan di luar rumah sambil menahan amarah besar, mulutnya mengancam dan mengomel, sampai akhirnya dia menemukan Manat tersungkur di tempat sampah, dia mengambilnya dan mencucinya, membersihkannya dan memberinya minyak wangi, mengembalikannya ke tempatnya.
          Amru berkata kepada Manat, “Demi Allah, kalau aku mengetahui siapa yang melakukan hal itu kepadamu niscaya aku akan menghukumnya.”
          Malam berikutnya anak-anak Amru masuk ke tempat dimana Manat dismpan, mereka kembali melakukan apa yang mereka lakukan di malam sebelumnya. Pagi tiba, laki-laki tua ini mencari Manat dan menemukannya di tempat sampah dalam keadaan berlumur kotoran, dia mengambilnya, membasuhnya dan memberinya wewangian lalu mengembalikannya ke tempatnya.
          Anak-anak muda itu terus melakukan itu terhadap Manat setiap malam. Amru benar-benar jengkel dengan keadaan tersebut, maka sebelum tidur dia menghampiri Manat, membawa pedangnya dan menggantungkannya di pundaknya.
          Amru berkata kepadanya, “Wahai Manat, demi Allah, aku tidak mengetahui siapa yang melakukan itu terhadapmu, jika padamu terdapat kebaikan maka belalah dirimu dari keburukan ini, ini pedang bersamamu.” Kemudian Amru pergi ke tempat tidurnya.
          Begitu anak-anak muda itu yakin bahwa laki-laki tua itu telah lelap dalam tidurnya, mereka langsung mendekati berhala, mereka mengambil pedang dari pundaknya, membawanya keluar rumah, mengikatnya pada bangkai anjing pada seutas tali, lalu mereka membuangnya ke sebuah sumur milik Bani Salamah tempat permbuangan kotoran mereka.
          Laki-laki berumur ini bangun, dia tidak melihat Manat, dia keluar mencarinya, dia melihatnya tersungkur dengan kepala di bawah di sebuah sumur terikat dengan seekor bangkai anjing sementara pedang yang dia berikan kepadanya sudah tidak terlihat bersamanya, kali ini Amru tidak mengambilnya, dia meninggalkannya di tempat dia tercampakkan. Dia berkata,
“Demi Allah, kalau kamu adalah tuhan yang benar niscaya Kamu tidak akan pernah terikat dengan tali bersama anjing di dalam sumur.”
          Tidak lama berslang. Amru pun masuk Islam.
Amru bin al-Jamuh meraskan manisnya iman, hal ini membuatnya menggigit jari penyesalan atas setiap saat yang dia habiskan dalam kesyirikan, dia menyambut agama barunya dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dia berikan harta, jiwa dan anak-anaknya demi menaati Allah dan Rasullnya.
          Saat perang Uhud. Amru bin al-Jamuh melihat ketiga anaknya bersiap-siap untuk menyambut musuh-musuh Allah. Dia melihat kepada mereka, hilir mudik seperti singa hutan dalam keadaan sangat merindukan syahadah dan keberuntungan meraih ridha Allah. Pemandangan itu memicu semangatnya, maka dia bertekad untuk berangkat bersama mereka ke medan jihad di bawah panji-panji Rasulullah Saw. Namun anak-anaknya berupaya untuk mencegah tekad bapak mereka.
          Bapaknya adalah laki-laki tua, berumur lanjut, di samping itu dia adalah laki-laki pincang, Allah Ta’ala memberinya uzur di antara orang-orang yang diberi uzur. Maka anak-anaknya berkata kepadanya, “Bapak, Allah telah memberimu uzur, mengapa engkau masih memaksakan diri dari apa yang tidak Allah wajibkan atasmu.”
          Bapak mereka marah besar atas ucapan anak-anaknya, dia berangkat kepada Nabi Saw untuk mengadukan mereka, dia berkata, “Wahai Nabiyullah, anak-anakku itu ingin mencegahku untuk meraih kebaikan besar ini, mereka beralasan bahwa aku pincang. Demi Allah aku ingin menjejakkan kakiku yang pincang ini di surga.”
          Rasulullah Saw bersabda kepada anak-anaknya, “Biarkan dia, semoga Allah Swt  memberinya syahadah.”
          Anak-anaknya pun membiarkannya demi menaati perintah Rasulullah Saw.
          Di saat keberangkatannya, Amru bin al-Jamuh mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya, seperti perpisahan orang yang pergi dan tidak akan kembali.
          Kemudian Amru menghadapkan wajahnya ke Qiblat, mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, berliah aku syahadah dan jangan biarkan aku pulang dengan tangan hampa.”
          Kemudian dia berangkat diiringi oleh ketiga anaknya serta kaumnya Bani Salamah dalam jumlah besar.
          Perang pun terjadi, ia mulai memuncak, kaum muslimin tercerai-berai dari Rasulullah Saw, pada saat itu Amru bin al-Jamuh terlihat teguh di tampatnya bersama para shahabat angkatan pertama, dia tegak dengan kakinya yang sehat sambil berkata, “Aku benar-benar merindukan surga. Aku benar-benar merindukan surga.”Khallad anaknya berada di belakangnya.
          Bapak dan anak terus berperang membela Rasulullah Saw sehingga keduanya gugur sebagai syahid di medan perang, jarak kematian bapak dengan anak hanya beberapa saat saja.
          Usai perang, Rasulullah Saw memeriksa para syuhada` Uhud untuk menguburkan mereka di liang lahad, beliau bersabda kepada shahabat-shahabat beliau, “Biarkan mereka dengan darah dan luka mereka, aku akan bersaksi untuk mereka.”
          Lalu Nabi Saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang terluka di jalan Allah, kecuali dia datang di hari kiamat dengan luka yang meneteskan darah, warnanya seperti za’faran dan baunya adalah bau minyak wangi misk.”
          Kemudia Nabi Saw bersabda, “Kuburkan Amru bin al-Jamuh dengan Abdullah bin Amru, keduanya saling menyintai dengan tulus di dunia.”
          Semoga Allah meridhai Amru bin al-Jamuh dan para shahabatnya dari para syuhada` Uhud dan menerangi kubur mereka.


Abu Ayyub al-Anshari


Khalid bin zaid al-Anshari
“Dikubur dibawah dinding Konstantinopel.”

          Shahabat yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin khubaib dari Bani an-Najjar. Adapun kun-yahnya maka dia adalah Abu Ayyub dengan penisbatan kepada Anshar.
          Siapa diantara kita kaum muslimin yang tidak mengenal Abu Ayyub al-Anshari?
          Allah telah meninggikan namanya di timur dan di barat, mengangkat kedudukannya di antara kaum muslimin ketika Allah Swt memilih rumahnya di antara rumah-rumah kaum muslimin  seluruhnya sebagai tempat tinggal Nabi Saw  yang mulia manakala beliau tiba di Madinah sebagai muhajir. Cukuplah hal itu sebagai sebuah kebanggaan.
          Dipilihnya oleh Rasulullah Saw rumah Abu Ayyub mempunyai kisah yang manis untuk dikenang dan nikmat untuk diulang.
          Ketika Nabi Saw tiba di Madinah, hati penduduknya menyambut beliau dengan penuh suka cita dan kemuliaan yang belum pernah diberika kepada pendatang.
          Mata mereka berbinar-binar, memancarkan cinta orang yang mencintai kepada kekasihnya.
          Mereka membuka hati untuk beliau agar pribadi beliau bersemayam di dalam lubuk hati yang paling dalam.
          Mereka membuka pintu rumah-rumah mereka dengan harapan beliau berkenan tinggal dan mendapatkan perlakuan paling mulia.
          Rasulullah Saw singgah di Quba di pinggir Madinah selama empat belas hari, selama itu beliau membangun masjid pertama yang didirikan atas ketakwaan.
          Kemudian beliau meninggalkannya dengan mengendarai unta beliau, para pemuka Yastrib pun berdiri di jalannya, setiap orang ingin meraih kemuliaan, ingin agar rumah mereka disinggahi Rasulullah Saw.
             Mereka berdiri di depan unta Nabi Saw, satu per satu , mereka berkata, “Tinggallah bersama kami wahai Rasulullah, kami mempunyai kekuatan orang, kekuatan senjata dan kesanggupan untuk melindungimu.”
          Maka Nabi Saw bersabda kepada mereka, “Biarkanlah unta ini berjalan karena dia mengikuti perintah.”
          Unta Nabi Saw terus berjalan menuju tujuan akhirnya, mata orang banyak mengikutinya, hati mereka mengelilinginya.
          Setiap unta itu melewati  sebuah rumah, pemiliknya pasti bersedih, penghuninya merasa kehilangan sesuatu, sementara pemilik rumah berikutnya berharap dengan cemas.
          Unta pun terus berjalan demikian, orang banyak berjalan mengikutinya, mereka sangat berkeinginan untuk mengetahui siapa gerangan yang berbahagia meraih karunia besar, sampai unta itu tiba di sebuah halaman kosong di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari dan menderum di sana.
          Namun Rasulullah Saw tidak turun darinya.
          Tidak lama berselang, tiba-tiba unta itu bangkit  dan berjalan sementara Rasulullah Saw melepas tali kekangnya. Namun setelah itu ia kembali ke tempat semula dan dia menderum lagi di sana.
          Pada saat itu kebahagiaan memayungi hati Abu Ayyub  al- Anshari, dia bergegas mendekat kepada Rasulullah Saw untuk menyambutnya, membawa perlengkapan beliau di depannya, seolah-olah dia membawa harta perbendaraan seluruhnya dan membawanya ke dalam rumahnya.
          Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Abu Ayyub mengosongkan bagian atas dari semua keperluan pribadinya dan keperluan isterinya agar Rasulullah Saw tinggal di sana.
          Namun Rasulullah Saw lebih memilih tinggal di bawah, maka Abu Ayyub menuruti kemauan Nabi Saw dan membiarkan beliau sesukanya.
          Malam pun tiba, Rasulullah Saw beranjak ke tempat tidur beliau, Abu Ayyub dan isterinya naik ke lantai atas, begitu Abu Ayyub menutup pintu, dia menoleh kepada istrinya dan berkata, “Celaka kita, apa yang kita lakukan? Pantaskah Rasulullah Saw di bawah sedangkan kita di atas? Apakah kita patut berjalan di atas Rasulullah Saw? Apakh kita berada di antara Nabi Saw dengan Wahyu? Kalau begini niscaya kita binasa.”
          Suami isteri itu terdiam kebingugan, keduanya tak tahu harus berbuat apa.
          Keduanya bisa sedikit lega manakala keduanya menepi ke sisi lain di mana Rasulullah Saw tidak berada di bawahnya, mereka berdua tetap di tempat itu tidak meninggalkannya kecuali dalam keadaan berjalan di pinggir  menjahui bagian tengah.
          Pagi tiba Abu Ayyub berkata kepada Nabi Saw, “Demi Allah ya Rasulullah, semalam kami tidak bisa tidur, tidak saya dan tidak pula Ummu Ayyub.”
          Nabi Saw pun bertanya, “Kenapa?”
          Abu Ayyub berkata, “Aku teringat bahwa aku berada di atas rumah di mana engkau berada di bawahnya, jika aku bergerak maka debu-debu akan berhamburan menimpamu, di samping itu aku berada di antara dirimu dengan wahyu.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Jangan pikirkan wahai Abu Ayyub, lebih muda bagiku kalau aku di bawah, karena banyak orang-orang yang hendak menemuiku.”
          Abu Ayyub berkata, aku menuruti perintah Rasulullah Saw, namu disuatu malam yang dingin, sebuah gentong air kami pecah, air berceceran di lantai atas, maka aku dan Ummu Ayyub mengambil selembar kain yang selama ini kami gunakan sebagai selimut, kami tidak memiliki selainnya, kami berusaha mengelap dan mengeringkan air dengan kain itu, kami khawatir ia akan menetes kepada Rasulullah Saw.
          Di pagi hari aku menemui Rasulullah Saw dan aku berkata kepada beliau, “Aku korbankan bapak dan ibukku demi dirimu ya Rasulullah, aku tetap tidak suka berada di atasmu dan engkau berada di bawahku.”
          Kemudian aku menceritakan berita gentong yang pecah, maka beliau menyanggupi dan beiau naik ke atas, aku dan Ummu Ayyub turun ke bawah.
           Nabi Saw tinggal di rumah Abu Ayyub selama kurang lebih tujuh bulan sampaim rampungnya pembangunan masjid di tanah kosong di mana unta Nabi Saw berhenti di sana. Beliau pindah ke kamar-kamarn yang di bangun di sekitar masjid untuk beliau dan ister-isteri beliau, Nabi Saw tetap menjadi tetangga bagi Abu Ayyub. Dua orang mulia yang saling bertetangga.
          Abu Ayyub menyintai Rasulullah Saw sepenuh cinta yang telah meresap ke dalam akal dan hatinya.Rasulullah Saw juga menyintai Abu Ayyub dengan cinta yang mengangkat sekat di antara beliau dengannya sehingga beliau melihat keluarga Abu Ayyub seperti keluarganya sendiri.
          Ibnu Abbas berkisah, dia berkata,
          Abu Bakar keluarke Masjid di suatu siang, Umar melihatnya, dia berkata, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar di saat-saat seperti ini?”
          Abu Bakar menjawab, “Yang membuatku keluar tidak lain kecuali rasa lapar yang melilit perutku.”
           Umar berkata, “Sama dengan diriku, aku juga tidak keluar kecuali karena rasa lapar yang berat.”
          Ketika keduanya dalam keadaan demikian, Nabi Saw keluar dan bertemu dengan mereka berdua, Nabi Saw bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar di saat-saat seperti ini?”
          Keduanya menjawab, “Demi Allah, yang membuat kami keluar tidak lain kecuali rasa lapar berat yang mendera perut kami.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Aku demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidak keluar kecuali karena itu pula. Bangkitlah bersamaku.”
          Maka mereka berangkat dan mendatangi Abu Ayyub al-Ansahri. Abu Ayyu sendiri selalu menyimpan makanan untuk Rasulullah Saw. Jika Rasulullah Saw tidak datang kepadanya maka dia akan memberikannya kepada keluarganya.
          Manakala mereka medekati pintu, Ummu Ayyub menyambut mereka. Dia berkata, “Selamat datang kepada Nabi Saw dan orang-orang yang bersamanya.”
          Maka Nabi Saw bertanya, “Di mana Abu Ayyub?”
          Abu Ayyub yang sedang bekerja di kebun yang tidak jauh dari rumah mendengar suara Rasulullah Saw, maka dia bergegas datang dan berkata, “Selamat datang kepada Rasulullah Saw dan orang-orang yang bersamanya.” Kemudian Abu Ayyub menambahkan,
          Wahai Nabiyullah, ini bukan waktu di mana engkau biasa datang.”
          Nabi Saw menjawab, “Kamu benar.”
          Lalu Abu Ayyub pergi ke sebuah pohon kurma dan memotong salah satu janjang yang berisikan kurma segar, yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan).
          Nabi Saw bersabda, “Aku tidak ingin kamu memotongnya, mengapa kamu tidak memetik buahnya saja.”
          Abu Ayyub menjawab, “Ya Rasulullah, aku ingin engkau memakan buahnya, kurma segar yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan). Aku juga akan menyembelih kambing untukmu.”
          Nabi Saw bersabda, “Jangan menyembelih hewan perahan.”
          Maka Abu Ayyub pun menyembelih kambing muda dan dia berkata kepada istrinya, “Buatlah adonan dan roti untuk tamu kita. Kamu lebih tahu bagaimana membuatnya”. Abu Ayyub sendiri mengambil setengah dari kambing yang disembelihnya untuk kemudian memasaknya dan setengahnya lagi dia panggang. Manakala makanan sudah matang, dihidangkan di hadapan Nabi Saw dan kedua shahabatnya. Nabi Saw mengambil sepotong daging dan meletakkannya di atas sepotong roti, beliau bersabda, “Wahai Abu Ayyub, berikanlah ini dengan segera kepada Fatimah, karena dia tidak pernah makan seperti ini beberapa hari lamanya.”
          Lalu mereka makan sampai kenyang. Nabi Saw bersabda, “Roti, daging,kurma, kurma segar dan kurma setengah matang.”
          Tiba-tiba ledua mata Nabi Saw meneteskan air mata, kemudian beliau bersabda:
“Demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sesungguhnya ini adalah kenikmatan dimana kalian akan ditanya tentangnya di hari Kiamat. Jika kalian mendapatkan seperti ini lalu kalian hendak menyantapnya maka ucapkanlah, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Jika kalian sudah kenyang maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah yang telah membuat kami kenyang dan memberikan nikmat dengan berlimpah.”
          Kemudian Nabi Saw bangkit dan berkata kepada Abu Ayyub , “Datanglah kepada kami besok.”
          Nabi Saw tidak pernah diberi sebuah kebaikan oleh seseorang kecuali beliau ingin membalasnya. Namun Abu Ayyub tidak mendengar sabda Nabi Saw tersebut, maka Umar berkata kepadanya, “Nabi Saw memintamu untuk hadir kepada beliau besok wahai Abu Ayyub.”
          Maka Abu Ayyub berkata, “Aku mendengar dan menaati undangan Rasulullah Saw.
          Besoknya Abu Ayyub datang kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw memberinya seorang hamba sahaya kecila yang biasa membantu beliau. Nabi Saw bersabda kepadanya, “Berbaik-baiklah kepadanya wahai Abu Ayyub, kami tidak melihat darinya kecuali kebaikan selama dia bersama kami.”
          Abu Ayyub pulang ke rumah dengan membawa seorang hamba sahaya. Manakala Ummu Ayyub melihatnya dia bertanya, “Milik siapa dia wahai Abu Ayyu?”
          Abu Ayyub menjawab, “Milik kita, hadiah dari Rasulullah Saw kepada kita.”
          Isterinya berkata, “Hadiah yang sangat berharga dan pemberian yang sangat mulia.
          Abu Ayyub berkata, “Nabi Saw memintaku untuk berbuat baik kepadanya.”
          Ummu Ayyub bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan sehingga kamu bisa melaksanakan permintaan Nabi Saw tersebut?”
          Abu Ayyub menjawab, “Demi Allah, tidak ada cara yang lebih baik untuk melaksanakan wasiat Rasulullah Saw selain memerdekakannya.”
          Umma Ayyub berkata, “Kamu telah dibimbing kepada kebenaran, kamu telah diberi taufiq.” Kemudian Abu Ayyub memerdekakannya.
          Ini sebagian dari kehidupan Abu Ayyub al-Anshari dalam kesehariannya. Kalau anda mempunyai kesempatan untuk melihat sebagian kehidupannya di medan perang niscaya Anda akan melihat keajaiban.
          Dia tidak pernah tertinggal dalam satu peperangan pun sejak zamanRasulullah Saw sampai zaman Mu’awiyah kecuali jika dia mempunyai kesibukan yang lainnya (yang syar’i harus didahulukan).
          Perang terakhir yang diikuti oleh Abu Ayyub adalah ketika Mu’awiyah menyiapkan bala tentara dengan komando putranya Yazid untuk menaklukan Konstatinopel. Pada saat itu Abu Ayyub sudah menjadi seorang laki-laki tua berumur lanjut, usianya mendekati delapan puluh. Namun hal itu bukan penghalang baginya untuk bergabung di bawah panji-panji Yazid dan meretas ombak lautan sebagai seorang mujahid di jalan Allah.
          Namun tidak lama berselang setelah peperangan dimulai, Abu Ayyub sakit yang membuatnya tidak kuasa untuk meneruskan peperangan. Yazid datang kepadanya untuk menjenguknya. Yazid bertanya, “Apakah engkau mempunyai suatu permintaan wahai Abu Ayyub?”
          Abu Ayyub menjawab, “Sampaikan salamku kepada bala tentara kaum muslimin dan katakan kepada mereka, ‘Abu Ayyub mewasiatkan kepada kalian agar kalian masuk ke bumi musuh sejauh mungkin, membawa jasadnya bersama mereka lalu menguburkannya di bawah telapak kaki kalian di pagar kota Konstatinopel.”
          Lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya.
          Bala tentara kaum muslimin melakukan permintaan Abu Ayyub seorang shahabat Rasulullah Saw, mereka menyerang pasukan musuh berkali-kali sampai mereka tiba di benteng kota Konstatinopel dalam keadaan membawa jasad Abu Ayyub.
          Di sana mereka menggali dan menguburkannya.
          Semoga Allah merahmati Abu Ayyub al-Anshari, dia menolak kecuali wafat di atas punggung kuda yang kuat sebagai seorang mujahid di jalan Allah dalam usia mendekati delapan puluh tahun.
          

Tsumamah bin Utsal


“Menetapkan embargo ekonomi atas orang-orang kafir Quraisy.”

          Di tahun keenam hijriyah, Rasulullah Saw berniat memperluas wilayah cakupan dakwah beliau kepada Allah, maka beliau menulis delapan surat kepada raja-raja Arab dan Ajam. Nabi Saw mengirimkan kepada mereka untuk menyeru mereka kepada Islam.
          Di antara orang yang mendapat surat Rasulullah Saw adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi.
          Tidak mengherankan karena Tsumamah adalah salah seorang permbesar orang-orang Arab di zaman Jahiliah.
          Salah seorang pembuka Bani Hanifah yang terpandang.
          Salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.
          Tsumamah menerima surat Nabi Saw dengan sikap angkuh dan melecehkan. Harga dirinya kepada dosa terpicu, maka menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu.
           Kemudian setan menguasai Tsumamah, dia membujuknya agar ia membunuh Rasulullah Saw dan mengubur dakwahnya bersamanya. Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi Saw sampai dia mendapatkan kesempatan itu. Kejahatan buruk ini hampir terlaksana jika salah seorang paman Tsumamah tidak mengurungkan niat Tsumamah di kesempatan terakhirnya, sehingga Allah menyelamatkan Nabi Saw dari keburukannya.
          Tsumamah, bila dia bisa menghentikan niat jahatnya terhadap Nabi Saw, namun dia tidak bisa menghentikannya pada dari para shahabat Nabi Saw. Tsumamah mengincar mereka, sehingga dia berhasil menangkap beberapa orang dari mereka dan membunuh mereka secara emosional, sehingga Nabi Saw menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para shahabatnya.
          Tidak lama setelah itu Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Makkah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan Thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.
          Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Makkah di dekat kota Madinah, dia mendapatkan sebuah musibah yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
          Sebuah pasukan Rasulullah Saw yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah, yang bertugas menjaga keamanannya dari serangan mandadak dari musuh atau melindunginya dari pelanggaran orang yang membawa keburukan, memergoki perjalanan Tsumamah.
          Pasukan ini menawannya, sementara mereka tidak mengenal siapa dia, pasukan ini membawanya ke Madinah, mengikatnya di salah satu tiang masjid, menunggu Rasulullah Saw yang akan melihat perkara tawanan ini dan menetapkan perintahnya padanya.
         Manakala Nabi Saw pergi ke masjid, dan hampir masuk kedalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”
          Merka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”
          Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”
          Kemudian Rasulullah Saw pulang ke keluarga beliau seraya bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkanlah kepada Tsumamah bin Utsal.”
          Kemudian Nabi Saw memerintahkan agar unta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.
          Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah Saw bertemu dengannya dan sebelum beliau berbicara kepadanya.
          Selanjutnya Nabi Saw menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”
          Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah, namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang berterimakasih. Jika kamu ingin harta maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”
          Nabi Saw membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu unta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi Saw menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”
          Tsumamah menjawab, “Aku hanya mempunyai apa yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang berterimakasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah. Jika kamu menginginkan harta  maka mintalah niscaya kami akan memberi seberapa saja yang kamu mau.”
          Lalu Rasulullah Saw melihat para shahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.” Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya.
          Tsumamah meninggalkan masjid Rasulullah Saw , dia berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggir Madinah dekat al-Baqi yang ada mata airnya. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya menuju masjid.
          Begitu tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum muslimin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”
Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi Saw dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamamu menjadi agama yang paling aku cintai.”
          Kemudian dia menambahkan, “Dulu aku pernah membunuh beberapa orang dari shahaba-shahabatmu, apa yang harus aku pukul karenanya?”
          Nabi Saw menjawab, “Tidak ada dosa atasmu wahai Tsumamah,karena Islam menghapus apa yang sebelumnya.”
          Nabi Saw menyampaikan berita gembira berupa kebaikan yang Allah tetapkan karena keislamannya.
          Maka wajah Tsumamah berbinar, dia berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan terhadap orang-orang musyrikin sesuatu yang jauh lebih berat dari pada apa yang telah aku lakukan terhadap shahabat-shahabatmu. Aku meletakkan pedangku, jiwaku dan orang-orangku demi mebelamu dan membela agamamu.”
          Kemudian Tsumamah berkata, “Ya Rasulullah, pasukanmu menagkapku, pada saat itu aku hendak melaksanakan umrah, menurutmu apa yang aku lakukan?”
          Nabi Saw menjawab, “Teruskan Umrahmu namun di atas syariat Allah dan Rasulnya.” Lalu Nabi Saw mengajarkan manasik umrah kepadanya.
          Tsumamah melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan niatnya, dia tiba di lembah Makkah, maka dia berdiri mengangkat suaranya dengan lantang, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syrika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”
          Muslim pertama di muka bumi yang masuk Makkah dengan bertalbiyah.
          Orang-orang Quraisy mendengar suara talbiyah, maka mereka berhamburan keluar penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, pedang-pedang ditarik dari sarungnya, mereka menuju sumber suara untuk membuka pemiliknya yang telah menganggu kandang mereka.
          Manakala orang-orang datang kepada Tsumamah, dia pun lebih meninggikan suara talbiyahnya sambil memandang mereka penuh dengan kebanggaan. Beberapa anak muda Quraisy berniat melepaskan anak panah kepadanya, namun para pemuka Quraisy mencegah mereka. Para pemuka Quraisy berkata, “Celaka kalian, Apakah kalian tahu siapa orang ini? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, raja Yamamah, demi Allah, kalau kalian mencelakainya niscaya kaumnya akan memutuskan pengiriman gandum kepada kita, akibatnya kita akan mati kelaparan.”
          Kemudian orang-orang datang mendekati Tsumamah setelah mereka memasukkan pedang-pedang ke dalam sarung masing-masing, mereka bertanya, “Ada apa denganmu wahai Tsumamah? Apakah kamu telah menjadi shabi` dan meninggalkan agamamu dan agama leluhurmu.
          Maka dia menjawab, “Aku tidak menjadi shabi`, tetapi aku mengikuti agama terbaik, aku mengikuti Muhammad.”
          Tsumamah menambahkan, “Aku bersumpah demi Ilah Ka’bah ini, setelah aku pulang ke Yamamah tidak ada lagi pengiriman sebiji gandum pun atau sebagian dari hasil buminya sebelum kalian semuanya mengikuti Muhammad.”
          Tsumamah bin Utsal melaksanakan umrah dihadapan orang-orang Quraisy seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw.
          Dia menyembelih dam untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk berhala-berhala. Setelah dia tiba di tengah kaumnya, dia memerintahkan mereka agar menahan gandum dari orang-rang Quraisy, mereka pun menaari dan mengikuti perintahnya, mereka menahan hasil bumi mereka dari orang-orang Makkah.”
          Embargo yang ditetapkan oleh Tsumamah atas Quraisy mulai berdampak terhadap mereka sedikit demi sedikit, harga makanan mulai melambung, kelaparan mulai menyebar di kalangan masyarakat, kesulitan mendera mereka sehingga mereka khawatir atas diri mereka dan anak-anak mereka akan mati kelaparan.
          Pada saat itu mereka menulis surat kepada Rasulullah Saw yang isinya:
“Yang kami tahu tentangmu adalah bahwa kamu penyambung tali silaturrahim dan memerintahkan untuk melakukannya. Namun sekarang kamu telah memutuskan rahim-rahim kami, kamu membunuh bapak-bapak kami dengan pedang dan mematikan anak-anak kami dengan kelaparan. Tsumamah bin Utsal telah mengutus pengiriman gandum sehingga hal itu menyulitkan bagi kami. Jika kamu berkenan untuk menulis kepadanya agar dia mengirim apa yang kami perlukan maka lakukanlah.”
          Nabi Saw menulis kepada Tsumamah agar mengirimkan kembali gandum kepada orang Quraisy maka dia pun melakukannya.
          Tsumamah bin Utsal selama hidupnya tetap setia kepada agamanya, menjaga janjinya kepada Nabi Saw. Manakala Rasulullah Saw wafat dan orang-orang Arab mulai murtad meninggalkan Islam, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dan Msailamah muncul di antara Bani Hanifah menyeru mereka agar beriman kepadanya, Tsumamah menghadangnya, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, jauhilah perkara gelap yang tidak mempunyai cahaya ini. Demi Allah ia adalah kesengsaraan yang Allah Swt tetapkan atas siapa yang mengambilnya dari kalian dan ujian bagi siapa yang tidak mengambilnya.”
          Kemudian dia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak berkumpul dua orang Nabi dala satu waktu. Bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang tiada Nabi sesudahnya, tiada Nabi yang berserikat dengannya.”
          Kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala:
“Haa Miim. Al-Quran ini di turunkan dari Allahyang maha Perkasa lagi maha mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumNya yang mempunyai karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepadaNyalah semua makhluk kembali.” (QS. Ghafir: 1-3)
          Kemudian dia berkata, “Bagaimna mungkin firman Allah Ta’ala ini dibandingkan dengan ucapan Musailamah, “Wahai kodok, bersihkanlah apa yang kamu bersihkan, bukan makanan yang kamu halangi dan bukan air yang kamu keruhkan.”
          Kemudian Tsumamah menyingkir bersama orang-orang  yang masih memegang Islam dari kaumnya, dia berperang melawan orang-orang murtad demi menegakkan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimatNya di muka bumi.
          Semoga Allah membalas Tsumamah bin Utsal atas jasa kebaikannya kepada Islam dan kaum muslimin dengan kebaikan serta memuliakannya dengan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa.
         

Al-Barra ` bin Malik


“Jangan mengangkat al-Barra` sebagai panglima tentara kaum Muslimin, karena dikhawatirkan dia mencelakakan bala tentaranya karena keberaniannya.”
(Umar bin al-Khattab)

          Seorang laki-laki dengan rambut kusut, badan berdebu, berperawakan kurus,tulang tubuhnya berbalur daging tipis,mata pemandangannya melihat kepadanya dengan sulit , kemudian langsung berpaling darinya.
          Sekalipun demikian, laki-laki ini pernah membunuh seratus orang musyrik sendirian duel di medan laga satu lawan satu, jumlah ini belum termasuk orang-orang yang dia habisi di medan perang.
          Dia adalah laki-laki pemberani, bernyali besar dan bertekad baja, dimana al-Faruq menulis kepada gubernurnya di seluruh wilayah kekuasaannya, “Jangan menyerahkan kaum muslimin kepadanya, aku khawatir dia akan mencelakakan mereka karena keberaniannya.”
          Dia adalah al-Barra ` bin Malik al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pelayan Rasulullah Saw.
          Kalau aku menyebutkan berita-berita kepahlawanan al-Barra ` bin Malik niscaya pembicaraan menjadi panjang dan kesempatan menjadi sempit, oleh karena itu aku memilih untuk menurunkan satu kisah dari kisah-kisah kepahlawanannya. Satu kisah yang mengabarkan kisah-kisah yang lain kepada anda.
          Kisah ini berawal sejak saat-saat pertama dari wafatnya Nabi Saw yang mulia dan kepergian beliau menghadap Rabbnya, dimana kabilah-kabilah Arab mulai keluar berbondong-bondong meninggalkan agama Allah setelah sebelumnya mereka masuk berbondong-bondong ke dalamnya. Mereka yang tetap teguh di atas Islam hanyalah orang-orang Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kabilah yang tersebar disana sini dari kalangan orang-orang yang Allah teguhkan hatinya di atas Islam.
          Ash-Shiddiq tetap tegak menghadapi fitnah buta yang merusak ini layaknya gunung yang berdiri kokoh, dia menyiapkan sebelas pasukan dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, dia mengibarkan sebelas panji komando untuk memimpin pasukan tersebut, lalu dia mengirimkan semuanya ke segala penjuru Jazirah Arabiah untuk mengembalikan orang-orang murtad ke jalan petunjuk dan kebenaran, untuk membawa orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar dengan tajamnya pedang.
          Orang-orang murtad yang paling besar kekuatannya, paling banyak anggotanya adalah Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab.
          Musailamah didukung oleh empat puluh ribu orang dari kabilahnya dan para sekutunya, mereka termasuk para petarung yang tangguh.
          Kebanyakan dari pengikutnya adalah orang-orang yang mengikutinya karena fanatisme kepadanya bukan karena iman kepadanya, sebagian dari mereka berkata, “Aku beraksi bahwa Musailamah adalah pembual besar dan Muhammad adalah orang yang benar, namun pembual Rabi’ah lebih kami cintai daripada orang yang jujur dari Mudhar.
          Musailamah mengalahkan pasukan kaum muslimin yang keluar memerangi mereka dengan kepemimipinan Ikrimah bin Abu Jahal, Musailamah berhasil memukul mundur tentara Islam itu.
          Maka ash-Shiddiq mengirimkan pasukan kedua dengan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid yang beranggotakan para shahabat besar dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar dan dibarisan pasukan ini adalah al-Barra ` bin Malik al-Anshari dan beberapa pahlawan pemberani kaum muslimin.
          Dua pasukan bertemu di bumi Yamamah di Nejed, perang belum berlangsung lama, tetapi sudah terlihat keunggulan pasukan Musailamah, bumi yang diinjak oleh pasukan kaum muslimin mulai bergoncang, mereka mulai melangkah mundur sehingga pasukan Musailamah mampu menerobos markas panglima Khalid bin al-Walid dan membongkar tiang-tiangnya dan hampir saja membunuh isterinya kalau tidak ada seorang muslim yang menyelamatkannya.
          Pada saat itu kaum muslimin merasakan sebuah bahaya yang sangat besar, mereka menyadari bahwa jika mereka kalah di depan Musailamah niscaya Islam tidak akan berdiri tegak setelah hari itu, Allah yang tiada sekutu bagiNya tidak akan pernah lagi disembah di bumi Jazirah Arab.
          Khalid maju menghampiri pasukannya, dia mulai menata ulang, memisahkan orang-orang muhajirin dari orang-orang Anshar, dia juga memisahkan orang-orang pedalaman dari pasukan-pasukan yang lain.
          Khalid mengumpulkan anak-anak- dari seorang bapak di bawah panji-panji salah seorang dari mereka, agar masing-masing dari mereka menunjukkan kepahlawanannya di medan perang, agar diketahui dimana titik kelemahan kaum muslimin.
          Genderang perang kembali ditabuh di antara kedua kubu, yang memakan korban besar, kaum muslimin belum pernah mengenal perang sedahsyat itu dalam sejarah mereka sebelumnya, pasukan Musailamah berperang dengan teguh di medan perang layaknya gunung yang tegak menjulang tinggi, mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya jumlah korban yang berjatuhan.
          Kaum muslimin memperlihatkan kepahlawanan mereka yang sangat mengagumkan, seandainya ia disusun menjadi satu niscaya akan menjadi sebuah kisah  kepahlawanan yang tergolong sangat mencengangkan.
          Tsabit bin Qais, pembawa panji orang-orang Anshar, mengambila kain kafannya, membuat galian di tanah sedalam setengah betis, lalu dia masuk ke dalam, dia tetap berdiri teguh di tempatnya, berperang membela panji kaumnya sampai dia tersungkur sebagai seorang syahid.
          Zaid bin al Khattab saudara Umar bin al-Khattab , memanggil kaum muslimin, “Wahai pasukan Islam, gigitlah gigi geraham kalian, tebaslah musuh kalian dan majulah tanpa mengenal rasa takut. Wahai tentara Allah, demi Allah, aku tidak akan berbicara setelah kalimatku ini selama-lamanya sampai Musailamah dikalahkan atau aku mati untuk bertemu Allah, lalu aku akan menyampaikan alasanku kepadaNya.”
          Kemudian dia maju berperang melawan musuh sampai dia gugur sebagai syahid.
          Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah, pembawa panji orang-orang Muhajirin. Kaumnya khawatir dia akan goyah sehingga tidak kuat memegang panji, maka mereka bertanya kepadanya, “Kami takut diserang melalui dirimu.” Maka dia menjawab, “Jika kalian sampai kalah karena aku maka akau adalah seburuk-buruk penghafal al-Qur’an.”
          Kemudian dia maju untuk melawan musuh dengan gagah berani sampai dia gugur syahid.
          Puncak kepahlawanan mereka semuanya tampak pada kepahlawanan  al-Barra` bin Malik.
          Khalid melihat bahwa peperangan semakin sengit dan mencapai puncaknya, pada saat itu Khalid menoleh kepada al-Barra` dan berkata, “Majulah wahai pemuda Anshar.”
          Maka al-barra` melihat kepada kaumnya dan berkata, “Wahai orang-orang Anshar, jangan ada salah seorang dari kalian yang berpikir untuk pulang ke Madinah, tidak ada Madinah bagi kalian setelah hari ini. Yang ada hanya Allah semata dan mati syahid.”
          Kemudian dia melangkah maju menyerang orang-orang musyrik dan kaumnya mengikutinya, dia menerjang membelah barisan musuh, menebaskan pedangnya ke leher musuh-musuh Allah sehingga bumi yang dipijak oleh Musailamah dengan pasukannya bergoncang, maka mereka pun mundur berlindung ke dalam benteng yang kemudian dikenal setelah itu dalam sejarah dengan benteng kematian karena banyaknya korban yang terbunuh di dalamnya.
          Benteng kematian ini sangat luas, dindingnya tinggi, Musailamah dengan ribuan pendukungnya masuk dan mengunci pintu benteng dari dalam, mereka melindungi diri mereka dengan ketinggian bentengnya, selanjutnya mereka menghujani kaum muslimin dengan anak panah dari dalam benteng, maka anak panah turun kepada kaum muslimin layaknya hujan turun dari langit.
          Pada saat itu pahlawan kaum muslimin yang pemberani al-Barra` bin Malik melangkah ke depan, dia berkata, “Wahai kaum muslimin, letakkan aku di sebuah tameng, angkatlah tameng itu di ujung tombak, kemudian lemparkan aku kedalam benteng dekat pintu gerbangnya, kalau aku tidak gugur maka aku akan membuka gerbangnya untuk kalian.”
          Dalam sekejap al-Barra` sudah duduk di sebuah tameng, berbadan kurus dan kerempeng, puluhan tombak mengangkatnya dan melemparkannya ke dalam benteng kematian di antara ribuan tentara Musailamah, maka al-Barra turun di antara mereka layaknya sebuah halilintar, al-Barra` melawan mereka sendirian di dekat gerbang benteng, menebaskan pedangnya sehingga dia berhasil menyudahi perlawanan sepuluh orang dari mereka dan membuka benteng sekalipun dia harus menerima delapan puluh lebih luka di tubuhnya berupa tusukan anak panah atau tebasan pedang.
          Maka kaum muslimin berhamburan masuk ke dalam benteng kematian, dari dinding-dindingnya dan pintu-pintunya, mereka menebaskan pedang-pedang mereka ke leher orang-orang yang murtad yang berlindung di dalam benteng, kaum muslimin bisa membunuh sekitar dua puluh ribu orang dari mereka, kaum muslimin sampai kepada Musailamah dan mengirimnya ke pintu kematian.
          Al-Barra` dibawa ke tendanya untuk diobati, Khalid bin al-Walid menyempati diri untuk tinggal selama satu bulan di bumi Yamamah dalam rangka mengobati luka-lukanya sehingga Allah memberinya kesembuhan dan menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin melalui kedua tangannya.
          Tibalah saatnya penaklukan kota Tustar di negeri Persi. Orang-orang Persia bersembunyi di salah satu bentengnya yang sangat tinggi, maka kaum muslimin mengepung mereka dari segala penjuru seperti gelang mengelilingi pergelangan tangan, penge[ungan berlangsung lama, orang-orang Persia merasakan beratnya pengepungan, maka mereka mulai mengulurkan rantai-rantai besi dari atas dinding benteng, padanya tergantung kait-kait yang telah dibakar dengan api sehingga keadaannya lebih panas daripada bara, kait-kait panas ini menyambar kaum muslimin dan menjepit mereka, yang terjepit akan terangkat ke atas, selanjutnya dia akan mati atau mendekat kematian.
          Salah satu pengait besi itu menyambar Anas bin Malik saudara al-Barra` bin Malik, al-Barra` langsung memanjat dinding benteng, memegang rantai besi yang menyambar saudaranya, dia melawan kait dan berusaha untuk melepaskan saudaranya darinya, tangan al-Barra` terbakar dan mengeluarkan asap, namun dia tidak memperdulikannya sehingga dia berhasil menyelamatkan saudaranya, al-Barra` turun ke bumi setelah tangannya hanya tinggal tulang tanpa daging.
          Dalam perang ini al-Barra` bin Malik al-Anshari berdoa kepadaNya agar melimpahkan syahadah kepadanya, maka Allah mengabulkan doanya dimana dia gugur sebagai syahid yang bisa bertemu Allah.
          Semoga Allah menjadikan wajah al-Barra `bin Malik berseri-seri di dalam surga, membuatnya tenang karena bisa menyusul Nabinya Muhammad Saw semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.
          

Umair bin Wahab


“Sungguh Umair telah menjadi seseorang yang lebih aku cintai dari sebagian anak-anakku”
(Umar bin al-Khattab)

          Umair bin Wahab al-Jumahi pulang dari Badar dengan selamat, namun dia meninggalkan anaknya di belakangnya sebagai tawanan di tangan kaum muslimin.
          Umair khawatir kaum muslimin akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap anaknya atas dosa-dosa bapaknya, menyiksanya dengan siksaan terburuk sebagai balasan atas penderitaan yang telah dia timpakan kepada Rasulullah Saw dan sebagai hukuman atas siksaan yang telah dia timpakan kepada para shahabatnya.
          Di suatu pagi, Umair menuju masjid untuk Thawaf di Ka’bah dan memohon keberkahan kepada berhala-berhalanya, dia melihat Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di sisi Hijr, dia berjalan kepadanya dan mengucapkan, “Im shabahan. Wahai sayid Quraisy.”
          Shafwan berkata, “Im shabahan wahai Abu Wahab. Duduklah, kita berbicara sebentar, kita menghabiskan waktu dengan berbicara.”
          Umair pun duduk di depan Shafwan bin Umayyah, dua laki-laki ini mulai berbicara mengenang Badar, mengenang musibah yang besar, menghitung tawanan-tawanan yang jatuh di tangan Muhammad dan para shahabatnya, berduka cita atas kematian para pemuka Quraisy diujung pedang kaum muslimin dan dilemparkannnya jasad mereka ke dasar sumurdi Badar. Maka Shafwan menarik nafas sedih seraya berkata, “Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam hidup ini sesudah mereka.”
          Umair berkata, “Kamu benar, demi Allah.” Kemudian Umair diam sesaat lalu dia melanjutkan, “Demi Rabb Ka’bah, kalau aku tidak memikul hutang yang saat ini aku tidak milikisesuatu yang bisa aku gunakan untuk melunasinya dan keluarga di mana aku khawatir mereka akan terlunta-lunta sesudahku niscaya aku akan pergi kepada Muhammad dan membunuhnya, aku akan menghabisi perkaranya dan mengakhiri keburukannya.”
          Umair melanjutkan dengan suara pelan, “Keberadaan anakku Wahab di antara mereka membuat kehadiranku ke Yastrib tidal menimbulkan kecurigaan kepada mereka.”
          Shafwan bin Umayyah memanfaatkan ucapan Umair bin Wahab, dia tidak ingin melepaskan peluang ini begitu saja,maka dia berkata, “Wahai Umair, biarkan aku yang memikul seluruh hutang-hutangmu, aku akan melunasinya sebesar apapun, Dan keluargamu, maka aku akan menanggung kehidupan mereka bersama dengan keluargaku selama aku dengan mereka masih hidup. Hartaku melimpah, cukup untuk membiayai mereka dan membuat mereka hidup makmur.”
          Umair berkata, “Kalau begitu simpanlah perbicaraan kita ini, jangan katakan kepada siapapun.”
          Maka Shafwan berkata, “Aku menjaminnya untukmu.”
          Umair meninggalkan masjid sementara api kebencian bergolak didadanya terhadap Muhammad, dia langsung menyiapkan segala perlengkapannya untuk melaksanakan tekadnya, dia tidak perlu khawatir dicurigai oleh seseorang dalam perjalanannya karena dia termasuk orang-orang Quraisy yang masih mempunyai urusan dengan kaum muslimin terkait dengan tawanan perang Badar, mereka hilir mudik ke Madinah untuk membebaskan tawanan mereka.
          Umair mengasah pedangnya setajam mungkin dan menaburkan racun padanya.
          Umair menyiapkan kendaraannya, dan naik ke atas punggungnya.
           Dia bergerak menuju Madinah dengan niat buruk dan tekad jahat memenuhi sesuatu di dalam jubahnya.
          Umair tiba di Madinah, dia menuju Masjid hendak menemui Rasulullah Saw, setibanya dia dekat pintu Masjid, dia menderumkan untanya dan turun dari punggungnya.
          Umar bin al-Khattab pada saat itu sedang duduk bersama sebagian shahabat di dekat pintu masjid, mereka membicarakan Badar dan apa yang dibawa olehnya berupa tawanan perang dari orang-orang Quraisy dan korban mereka, mereka mengenang kepahlawanan-kepahlawanan kaum muslimin dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka membicarakan kemenangan yang Allah Swt anugerahkan kepada mereka, kekalahan dan kehinaan yang Allah Swt timpakan kepada musuh mereka.
          Tiba-tiba Umar Ra menoleh, dia melihat Umair bin Wahab turun dari punggung kendaraannya dan berjalan menuju masjid dengan menenteng pedangnya, maka Umar Ra bangkit dengan persaan cemas, dia berkata, “Anjing, musuh Allah Umair bin Wahab. Demi Allah, dia tidak datang kecuali bermaksud jahat. Dia telah mempengaruhi orang-orang musyrikin di Makkah untuk memusuhi kami dan dia adalah mata-mata mereka atas kami sebelum terjadi perang Badar.”
          Kemudian Umar Ra berkata kepada rekan-rekannya, “Pergilah kalian kepada Rasulullah Saw, tetaplah kalian di samping beliau, berhati-hatilah terhadap kelicikan orang busuk itu.”
          Kemudian Umar Ra bergegas menuju Nabi Saw dan dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, ini musuh Allah Umair bin Wahab telah datang dengan menghunus pedangnya, menurutku dia tidak datang kecuali dengan maksud jahat.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Bawa dia masuk kepadaku.”
          Maka al-Faruq membawa Umair bin Wahab kepada Nabi Saw dengan mencengkeram kerah bajunya dan mengalungkan tali pedangnya di lehernya.
          Ketika Nabi Saw melihat dalam kondisi demikian, beliau bersabda kepada Umar, “Lepaskan dia wahai Umar.” Maka Umar melepaskannya. Kemudian beliau bersabda kepada Umar, “Mundurlah dariku”.Maka Umar mundur. Kemudian Rasulullah Saw menghampiri Umair bin Wahab dan beliau bersabda, “Mendekatlah wahai Umair.” Umair berkata, “An’im shabahan.” Ini adalah ucapan salam jahiliah.
          Maka Rasulullah Saw bersabda:
“Allah telah memuliakan kami dengan sebuah penghormatan yang lebih Umair. Allah baik dari ucapanmu itu wahai telah memuliakan kami dengan salam, ia adalah penghormatan untuk penduduk surga.”
          Maka Umair berkata, “ Demi Allah, engkau sendiri tidak asing dengan penghormatan kami dan engkau belum lama meninggalkannya.”
          Maka Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu datang wahai Umair?”
          Umair menjawab, “Aku datang dengan membawa harapan engkau berkenan melepaskan tawanan yang ada di tanganmu, berbuat baiklah demi aku.”
          Rasulullah Saw bertanya, “Lalu mengapa pedang itu ada di pundakmu?”
          Umair menjawab, “Pedang yang buruk dan tidak berguna apapun bagi kami di perang Badar.”
          Rasulullah Saw mencecarnya, “Katakan kepadaku dengan jujur, apa yang membuatmu datang kepadaku?”
          Umair menjawab, “Aku tidak datang kecuali untuk itu.”
          Rasulullah Saw bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi kamu duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijir, lalu kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang dilemparkan ke sumur Badar. Kamu berkata, “Kalau bukan karena Hutang yang aku pikul dan keluarga yang aku tanggung niscaya aku akan berangkat menemui Muhammad untuk membunuhnya.”Lalu Shafwan bin Umayyah memikul hutangmu dan menjamin kehidupan keluargamu dengan syarat kamu membunuhku. Allah Ta’ala menghalangimu untuk melakukan hal itu.”
          Umair terhenyak ssesaat, kemudian dia berkata, “Aki bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
         Kemudian dia buru-buru menambahkan, “Ya Rasulullah, dulu kami mendustakanmu dengan tidak mempercayai berita langit yang engkau bawa dan wahyu yang turun kepadamu, akan tetapi ceritaku dengan Shafwan bin Umayyah hanya diketahui oleh kami berdua. Demi Allah, sungguh aku yakin bahwa yang menyampaikannya kepadamu hanyalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menggiringku kepadamu sehingga Dia membimbingku kepada Islam.”
          Kemudian Umair bersaksi bahwa tidak ada Illah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dia masuk Islam.
           Maka Rasulullah Saw bersabda kepada para Shahabat, “Jadikanlah saudara kalian paham  dalam agamanya dan ajarilah al-Qur’an serta bebaskanlah tawanannya.”
          Kaum muslimin berbahagia dengan masuknya Umair bin Wahab ke dalam Islam, sampai-sampai Umar bin al-Khattab berkata, “Seekor babi lebih aku cintai daripada Umair bin Wahab ketika dia datang kepada Nabi saw, namun sekarang dia lebih aku cintai daripada sebagian anakku sendiri.”
          Umair terus menyucikan dirinya dengan ajaran-ajaran Islam, mengisi hatinya dengan al-Qur’an, menghidupkan hari-hari kehidupannya yang paling mengagumkan dan paling sarat kebaikan, hal ini membuatnya melupakan Makkah dan siapa yang tinggal disana.
          Shafwan bin Umayyah menunggu dan menunggu, penantiannya berjalan lama, akhirnya kecemasan mulai menggelayuti benaknya sedikit demi sedikit, sampai dia seperti berguling-guling di atas bara api yang paling panas, dia mulai bertanya-tanya kepadda para rombongan musafir yang lewat tentang Umair bin Wahab,namun dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
          Sampai datanglah seorang musafir yang berkata kepadanya, “Umair telah masuk Islam.”
          Berita yang terdengar ditelinga Shafwan bak halilintar yang menyambar di siang hari, karena sebelumnya dia yakin bahwa Umair tidak akan masuk Islam sekalipun seluruh penduduk bumi masuk Islam.
          Umair bin Wahab terus mendalami agamanya, menghafal kalam Allah yang bisa dia hafal, sehingga dia datang kepada Nabi Saw dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melewati suatu Zaman, selama itu aku selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, kerap menimpakan gangguan keras terhadap orang-orang yang masuk ke dalam agama Allah, aku ingin engkau memberi izin kepadaku untuk pergi ke Makkah untuk mengajak orang Quraisy kepada Allah dan Rasulnya, jika mereka menerimanya dariku maka apa yang mereka lakukan adalah sebaik-baik perbuatan, namun jika mereka berpaling maka aku akan melakukan terhadap mereka seperti dulu aku melakukan terhadap orang-orang yang masuk Islam.”
          Rasulullah Saw mengizinkan, maka Umair datang ke Makkah, dia datang ke rumah Shafwan dan berkata, “Wahai Shafwan, sesungguhnya kamu adalah salah seorang pembesar Makkah, salah seorang Quraisy yang berakal, apakah menurutmu apa yang kalian yakini selama ini, yaitu menyembah batu dan menyembelih untuknya benar dalam akal sehingga ia patut dijadikan sebagai agama? Aku telah bersaksi bahwa tiada Ilah yang Haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
          Kemudian Umair terus berdakwah kepada Allah di Makkah sehingga banyak orang Makkah masuk Islam atas ajarannya.
          Semoga Alla memberikan pahala besar kepada Umair bin Wahab dan meliputi kuburnya dengan cahaya.