Ya Allah Izinkan Aku untuk beribadah di Tanah Suci... Aamiin

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 02 Juli 2012

Al-Barra ` bin Malik


Jangan mengangkat al-Barra` sebagai panglima tentara kaum Muslimin, karena dikhawatirkan dia mencelakakan bala tentaranya karena keberaniannya.”
(Umar bin al-Khattab)

          Seorang laki-laki dengan rambut kusut, badan berdebu, berperawakan kurus,tulang tubuhnya berbalur daging tipis,mata pemandangannya melihat kepadanya dengan sulit , kemudian langsung berpaling darinya.
          Sekalipun demikian, laki-laki ini pernah membunuh seratus orang musyrik sendirian duel di medan laga satu lawan satu, jumlah ini belum termasuk orang-orang yang dia habisi di medan perang.
          Dia adalah laki-laki pemberani, bernyali besar dan bertekad baja, dimana al-Faruq menulis kepada gubernurnya di seluruh wilayah kekuasaannya, “Jangan menyerahkan kaum muslimin kepadanya, aku khawatir dia akan mencelakakan mereka karena keberaniannya.”
          Dia adalah al-Barra ` bin Malik al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pelayan Rasulullah Saw.
          Kalau aku menyebutkan berita-berita kepahlawanan al-Barra ` bin Malik niscaya pembicaraan menjadi panjang dan kesempatan menjadi sempit, oleh karena itu aku memilih untuk menurunkan satu kisah dari kisah-kisah kepahlawanannya. Satu kisah yang mengabarkan kisah-kisah yang lain kepada anda.
          Kisah ini berawal sejak saat-saat pertama dari wafatnya Nabi Saw yang mulia dan kepergian beliau menghadap Rabbnya, dimana kabilah-kabilah Arab mulai keluar berbondong-bondong meninggalkan agama Allah setelah sebelumnya mereka masuk berbondong-bondong ke dalamnya. Mereka yang tetap teguh di atas Islam hanyalah orang-orang Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kabilah yang tersebar disana sini dari kalangan orang-orang yang Allah teguhkan hatinya di atas Islam.
          Ash-Shiddiq tetap tegak menghadapi fitnah buta yang merusak ini layaknya gunung yang berdiri kokoh, dia menyiapkan sebelas pasukan dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, dia mengibarkan sebelas panji komando untuk memimpin pasukan tersebut, lalu dia mengirimkan semuanya ke segala penjuru Jazirah Arabiah untuk mengembalikan orang-orang murtad ke jalan petunjuk dan kebenaran, untuk membawa orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar dengan tajamnya pedang.
          Orang-orang murtad yang paling besar kekuatannya, paling banyak anggotanya adalah Bani Hanifah, para pengikut Musailamah al-Kadzdzab.
          Musailamah didukung oleh empat puluh ribu orang dari kabilahnya dan para sekutunya, mereka termasuk para petarung yang tangguh.
          Kebanyakan dari pengikutnya adalah orang-orang yang mengikutinya karena fanatisme kepadanya bukan karena iman kepadanya, sebagian dari mereka berkata, “Aku beraksi bahwa Musailamah adalah pembual besar dan Muhammad adalah orang yang benar, namun pembual Rabi’ah lebih kami cintai daripada orang yang jujur dari Mudhar.
          Musailamah mengalahkan pasukan kaum muslimin yang keluar memerangi mereka dengan kepemimipinan Ikrimah bin Abu Jahal, Musailamah berhasil memukul mundur tentara Islam itu.
          Maka ash-Shiddiq mengirimkan pasukan kedua dengan dipimpin oleh Khalid bin al-Walid yang beranggotakan para shahabat besar dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar dan dibarisan pasukan ini adalah al-Barra ` bin Malik al-Anshari dan beberapa pahlawan pemberani kaum muslimin.
          Dua pasukan bertemu di bumi Yamamah di Nejed, perang belum berlangsung lama, tetapi sudah terlihat keunggulan pasukan Musailamah, bumi yang diinjak oleh pasukan kaum muslimin mulai bergoncang, mereka mulai melangkah mundur sehingga pasukan Musailamah mampu menerobos markas panglima Khalid bin al-Walid dan membongkar tiang-tiangnya dan hampir saja membunuh isterinya kalau tidak ada seorang muslim yang menyelamatkannya.
          Pada saat itu kaum muslimin merasakan sebuah bahaya yang sangat besar, mereka menyadari bahwa jika mereka kalah di depan Musailamah niscaya Islam tidak akan berdiri tegak setelah hari itu, Allah yang tiada sekutu bagiNya tidak akan pernah lagi disembah di bumi Jazirah Arab.
          Khalid maju menghampiri pasukannya, dia mulai menata ulang, memisahkan orang-orang muhajirin dari orang-orang Anshar, dia juga memisahkan orang-orang pedalaman dari pasukan-pasukan yang lain.
          Khalid mengumpulkan anak-anak- dari seorang bapak di bawah panji-panji salah seorang dari mereka, agar masing-masing dari mereka menunjukkan kepahlawanannya di medan perang, agar diketahui dimana titik kelemahan kaum muslimin.
          Genderang perang kembali ditabuh di antara kedua kubu, yang memakan korban besar, kaum muslimin belum pernah mengenal perang sedahsyat itu dalam sejarah mereka sebelumnya, pasukan Musailamah berperang dengan teguh di medan perang layaknya gunung yang tegak menjulang tinggi, mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya jumlah korban yang berjatuhan.
          Kaum muslimin memperlihatkan kepahlawanan mereka yang sangat mengagumkan, seandainya ia disusun menjadi satu niscaya akan menjadi sebuah kisah  kepahlawanan yang tergolong sangat mencengangkan.
          Tsabit bin Qais, pembawa panji orang-orang Anshar, mengambila kain kafannya, membuat galian di tanah sedalam setengah betis, lalu dia masuk ke dalam, dia tetap berdiri teguh di tempatnya, berperang membela panji kaumnya sampai dia tersungkur sebagai seorang syahid.
          Zaid bin al Khattab saudara Umar bin al-Khattab , memanggil kaum muslimin, “Wahai pasukan Islam, gigitlah gigi geraham kalian, tebaslah musuh kalian dan majulah tanpa mengenal rasa takut. Wahai tentara Allah, demi Allah, aku tidak akan berbicara setelah kalimatku ini selama-lamanya sampai Musailamah dikalahkan atau aku mati untuk bertemu Allah, lalu aku akan menyampaikan alasanku kepadaNya.”
          Kemudian dia maju berperang melawan musuh sampai dia gugur sebagai syahid.
          Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah, pembawa panji orang-orang Muhajirin. Kaumnya khawatir dia akan goyah sehingga tidak kuat memegang panji, maka mereka bertanya kepadanya, “Kami takut diserang melalui dirimu.” Maka dia menjawab, “Jika kalian sampai kalah karena aku maka akau adalah seburuk-buruk penghafal al-Qur’an.”
          Kemudian dia maju untuk melawan musuh dengan gagah berani sampai dia gugur syahid.
          Puncak kepahlawanan mereka semuanya tampak pada kepahlawanan  al-Barra` bin Malik.
          Khalid melihat bahwa peperangan semakin sengit dan mencapai puncaknya, pada saat itu Khalid menoleh kepada al-Barra` dan berkata, “Majulah wahai pemuda Anshar.”
          Maka al-barra` melihat kepada kaumnya dan berkata, “Wahai orang-orang Anshar, jangan ada salah seorang dari kalian yang berpikir untuk pulang ke Madinah, tidak ada Madinah bagi kalian setelah hari ini. Yang ada hanya Allah semata dan mati syahid.”
          Kemudian dia melangkah maju menyerang orang-orang musyrik dan kaumnya mengikutinya, dia menerjang membelah barisan musuh, menebaskan pedangnya ke leher musuh-musuh Allah sehingga bumi yang dipijak oleh Musailamah dengan pasukannya bergoncang, maka mereka pun mundur berlindung ke dalam benteng yang kemudian dikenal setelah itu dalam sejarah dengan benteng kematian karena banyaknya korban yang terbunuh di dalamnya.
          Benteng kematian ini sangat luas, dindingnya tinggi, Musailamah dengan ribuan pendukungnya masuk dan mengunci pintu benteng dari dalam, mereka melindungi diri mereka dengan ketinggian bentengnya, selanjutnya mereka menghujani kaum muslimin dengan anak panah dari dalam benteng, maka anak panah turun kepada kaum muslimin layaknya hujan turun dari langit.
          Pada saat itu pahlawan kaum muslimin yang pemberani al-Barra` bin Malik melangkah ke depan, dia berkata, “Wahai kaum muslimin, letakkan aku di sebuah tameng, angkatlah tameng itu di ujung tombak, kemudian lemparkan aku kedalam benteng dekat pintu gerbangnya, kalau aku tidak gugur maka aku akan membuka gerbangnya untuk kalian.”
          Dalam sekejap al-Barra` sudah duduk di sebuah tameng, berbadan kurus dan kerempeng, puluhan tombak mengangkatnya dan melemparkannya ke dalam benteng kematian di antara ribuan tentara Musailamah, maka al-Barra turun di antara mereka layaknya sebuah halilintar, al-Barra` melawan mereka sendirian di dekat gerbang benteng, menebaskan pedangnya sehingga dia berhasil menyudahi perlawanan sepuluh orang dari mereka dan membuka benteng sekalipun dia harus menerima delapan puluh lebih luka di tubuhnya berupa tusukan anak panah atau tebasan pedang.
          Maka kaum muslimin berhamburan masuk ke dalam benteng kematian, dari dinding-dindingnya dan pintu-pintunya, mereka menebaskan pedang-pedang mereka ke leher orang-orang yang murtad yang berlindung di dalam benteng, kaum muslimin bisa membunuh sekitar dua puluh ribu orang dari mereka, kaum muslimin sampai kepada Musailamah dan mengirimnya ke pintu kematian.
          Al-Barra` dibawa ke tendanya untuk diobati, Khalid bin al-Walid menyempati diri untuk tinggal selama satu bulan di bumi Yamamah dalam rangka mengobati luka-lukanya sehingga Allah memberinya kesembuhan dan menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin melalui kedua tangannya.
          Tibalah saatnya penaklukan kota Tustar di negeri Persi. Orang-orang Persia bersembunyi di salah satu bentengnya yang sangat tinggi, maka kaum muslimin mengepung mereka dari segala penjuru seperti gelang mengelilingi pergelangan tangan, penge[ungan berlangsung lama, orang-orang Persia merasakan beratnya pengepungan, maka mereka mulai mengulurkan rantai-rantai besi dari atas dinding benteng, padanya tergantung kait-kait yang telah dibakar dengan api sehingga keadaannya lebih panas daripada bara, kait-kait panas ini menyambar kaum muslimin dan menjepit mereka, yang terjepit akan terangkat ke atas, selanjutnya dia akan mati atau mendekat kematian.
          Salah satu pengait besi itu menyambar Anas bin Malik saudara al-Barra` bin Malik, al-Barra` langsung memanjat dinding benteng, memegang rantai besi yang menyambar saudaranya, dia melawan kait dan berusaha untuk melepaskan saudaranya darinya, tangan al-Barra` terbakar dan mengeluarkan asap, namun dia tidak memperdulikannya sehingga dia berhasil menyelamatkan saudaranya, al-Barra` turun ke bumi setelah tangannya hanya tinggal tulang tanpa daging.
          Dalam perang ini al-Barra` bin Malik al-Anshari berdoa kepadaNya agar melimpahkan syahadah kepadanya, maka Allah mengabulkan doanya dimana dia gugur sebagai syahid yang bisa bertemu Allah.
          Semoga Allah menjadikan wajah al-Barra `bin Malik berseri-seri di dalam surga, membuatnya tenang karena bisa menyusul Nabinya Muhammad Saw semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.
          

Umair bin Wahab


“Sungguh Umair telah menjadi seseorang yang lebih aku cintai dari sebagian anak-anakku”
(Umar bin al-Khattab)

          Umair bin Wahab al-Jumahi pulang dari Badar dengan selamat, namun dia meninggalkan anaknya di belakangnya sebagai tawanan di tangan kaum muslimin.
          Umair khawatir kaum muslimin akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap anaknya atas dosa-dosa bapaknya, menyiksanya dengan siksaan terburuk sebagai balasan atas penderitaan yang telah dia timpakan kepada Rasulullah Saw dan sebagai hukuman atas siksaan yang telah dia timpakan kepada para shahabatnya.
          Di suatu pagi, Umair menuju masjid untuk Thawaf di Ka’bah dan memohon keberkahan kepada berhala-berhalanya, dia melihat Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di sisi Hijr, dia berjalan kepadanya dan mengucapkan, “Im shabahan. Wahai sayid Quraisy.”
          Shafwan berkata, “Im shabahan wahai Abu Wahab. Duduklah, kita berbicara sebentar, kita menghabiskan waktu dengan berbicara.”
          Umair pun duduk di depan Shafwan bin Umayyah, dua laki-laki ini mulai berbicara mengenang Badar, mengenang musibah yang besar, menghitung tawanan-tawanan yang jatuh di tangan Muhammad dan para shahabatnya, berduka cita atas kematian para pemuka Quraisy diujung pedang kaum muslimin dan dilemparkannnya jasad mereka ke dasar sumurdi Badar. Maka Shafwan menarik nafas sedih seraya berkata, “Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam hidup ini sesudah mereka.”
          Umair berkata, “Kamu benar, demi Allah.” Kemudian Umair diam sesaat lalu dia melanjutkan, “Demi Rabb Ka’bah, kalau aku tidak memikul hutang yang saat ini aku tidak milikisesuatu yang bisa aku gunakan untuk melunasinya dan keluarga di mana aku khawatir mereka akan terlunta-lunta sesudahku niscaya aku akan pergi kepada Muhammad dan membunuhnya, aku akan menghabisi perkaranya dan mengakhiri keburukannya.”
          Umair melanjutkan dengan suara pelan, “Keberadaan anakku Wahab di antara mereka membuat kehadiranku ke Yastrib tidal menimbulkan kecurigaan kepada mereka.”
          Shafwan bin Umayyah memanfaatkan ucapan Umair bin Wahab, dia tidak ingin melepaskan peluang ini begitu saja,maka dia berkata, “Wahai Umair, biarkan aku yang memikul seluruh hutang-hutangmu, aku akan melunasinya sebesar apapun, Dan keluargamu, maka aku akan menanggung kehidupan mereka bersama dengan keluargaku selama aku dengan mereka masih hidup. Hartaku melimpah, cukup untuk membiayai mereka dan membuat mereka hidup makmur.”
          Umair berkata, “Kalau begitu simpanlah perbicaraan kita ini, jangan katakan kepada siapapun.”
          Maka Shafwan berkata, “Aku menjaminnya untukmu.”
          Umair meninggalkan masjid sementara api kebencian bergolak didadanya terhadap Muhammad, dia langsung menyiapkan segala perlengkapannya untuk melaksanakan tekadnya, dia tidak perlu khawatir dicurigai oleh seseorang dalam perjalanannya karena dia termasuk orang-orang Quraisy yang masih mempunyai urusan dengan kaum muslimin terkait dengan tawanan perang Badar, mereka hilir mudik ke Madinah untuk membebaskan tawanan mereka.
          Umair mengasah pedangnya setajam mungkin dan menaburkan racun padanya.
          Umair menyiapkan kendaraannya, dan naik ke atas punggungnya.
           Dia bergerak menuju Madinah dengan niat buruk dan tekad jahat memenuhi sesuatu di dalam jubahnya.
          Umair tiba di Madinah, dia menuju Masjid hendak menemui Rasulullah Saw, setibanya dia dekat pintu Masjid, dia menderumkan untanya dan turun dari punggungnya.
          Umar bin al-Khattab pada saat itu sedang duduk bersama sebagian shahabat di dekat pintu masjid, mereka membicarakan Badar dan apa yang dibawa olehnya berupa tawanan perang dari orang-orang Quraisy dan korban mereka, mereka mengenang kepahlawanan-kepahlawanan kaum muslimin dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar, mereka membicarakan kemenangan yang Allah Swt anugerahkan kepada mereka, kekalahan dan kehinaan yang Allah Swt timpakan kepada musuh mereka.
          Tiba-tiba Umar Ra menoleh, dia melihat Umair bin Wahab turun dari punggung kendaraannya dan berjalan menuju masjid dengan menenteng pedangnya, maka Umar Ra bangkit dengan persaan cemas, dia berkata, “Anjing, musuh Allah Umair bin Wahab. Demi Allah, dia tidak datang kecuali bermaksud jahat. Dia telah mempengaruhi orang-orang musyrikin di Makkah untuk memusuhi kami dan dia adalah mata-mata mereka atas kami sebelum terjadi perang Badar.”
          Kemudian Umar Ra berkata kepada rekan-rekannya, “Pergilah kalian kepada Rasulullah Saw, tetaplah kalian di samping beliau, berhati-hatilah terhadap kelicikan orang busuk itu.”
          Kemudian Umar Ra bergegas menuju Nabi Saw dan dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, ini musuh Allah Umair bin Wahab telah datang dengan menghunus pedangnya, menurutku dia tidak datang kecuali dengan maksud jahat.”
          Maka Nabi Saw bersabda, “Bawa dia masuk kepadaku.”
          Maka al-Faruq membawa Umair bin Wahab kepada Nabi Saw dengan mencengkeram kerah bajunya dan mengalungkan tali pedangnya di lehernya.
          Ketika Nabi Saw melihat dalam kondisi demikian, beliau bersabda kepada Umar, “Lepaskan dia wahai Umar.” Maka Umar melepaskannya. Kemudian beliau bersabda kepada Umar, “Mundurlah dariku”.Maka Umar mundur. Kemudian Rasulullah Saw menghampiri Umair bin Wahab dan beliau bersabda, “Mendekatlah wahai Umair.” Umair berkata, “An’im shabahan.” Ini adalah ucapan salam jahiliah.
          Maka Rasulullah Saw bersabda:
“Allah telah memuliakan kami dengan sebuah penghormatan yang lebih Umair. Allah baik dari ucapanmu itu wahai telah memuliakan kami dengan salam, ia adalah penghormatan untuk penduduk surga.”
          Maka Umair berkata, “ Demi Allah, engkau sendiri tidak asing dengan penghormatan kami dan engkau belum lama meninggalkannya.”
          Maka Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu datang wahai Umair?”
          Umair menjawab, “Aku datang dengan membawa harapan engkau berkenan melepaskan tawanan yang ada di tanganmu, berbuat baiklah demi aku.”
          Rasulullah Saw bertanya, “Lalu mengapa pedang itu ada di pundakmu?”
          Umair menjawab, “Pedang yang buruk dan tidak berguna apapun bagi kami di perang Badar.”
          Rasulullah Saw mencecarnya, “Katakan kepadaku dengan jujur, apa yang membuatmu datang kepadaku?”
          Umair menjawab, “Aku tidak datang kecuali untuk itu.”
          Rasulullah Saw bersabda, “Tidak demikian, akan tetapi kamu duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijir, lalu kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang dilemparkan ke sumur Badar. Kamu berkata, “Kalau bukan karena Hutang yang aku pikul dan keluarga yang aku tanggung niscaya aku akan berangkat menemui Muhammad untuk membunuhnya.”Lalu Shafwan bin Umayyah memikul hutangmu dan menjamin kehidupan keluargamu dengan syarat kamu membunuhku. Allah Ta’ala menghalangimu untuk melakukan hal itu.”
          Umair terhenyak ssesaat, kemudian dia berkata, “Aki bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
         Kemudian dia buru-buru menambahkan, “Ya Rasulullah, dulu kami mendustakanmu dengan tidak mempercayai berita langit yang engkau bawa dan wahyu yang turun kepadamu, akan tetapi ceritaku dengan Shafwan bin Umayyah hanya diketahui oleh kami berdua. Demi Allah, sungguh aku yakin bahwa yang menyampaikannya kepadamu hanyalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menggiringku kepadamu sehingga Dia membimbingku kepada Islam.”
          Kemudian Umair bersaksi bahwa tidak ada Illah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dia masuk Islam.
           Maka Rasulullah Saw bersabda kepada para Shahabat, “Jadikanlah saudara kalian paham  dalam agamanya dan ajarilah al-Qur’an serta bebaskanlah tawanannya.”
          Kaum muslimin berbahagia dengan masuknya Umair bin Wahab ke dalam Islam, sampai-sampai Umar bin al-Khattab berkata, “Seekor babi lebih aku cintai daripada Umair bin Wahab ketika dia datang kepada Nabi saw, namun sekarang dia lebih aku cintai daripada sebagian anakku sendiri.”
          Umair terus menyucikan dirinya dengan ajaran-ajaran Islam, mengisi hatinya dengan al-Qur’an, menghidupkan hari-hari kehidupannya yang paling mengagumkan dan paling sarat kebaikan, hal ini membuatnya melupakan Makkah dan siapa yang tinggal disana.
          Shafwan bin Umayyah menunggu dan menunggu, penantiannya berjalan lama, akhirnya kecemasan mulai menggelayuti benaknya sedikit demi sedikit, sampai dia seperti berguling-guling di atas bara api yang paling panas, dia mulai bertanya-tanya kepadda para rombongan musafir yang lewat tentang Umair bin Wahab,namun dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
          Sampai datanglah seorang musafir yang berkata kepadanya, “Umair telah masuk Islam.”
          Berita yang terdengar ditelinga Shafwan bak halilintar yang menyambar di siang hari, karena sebelumnya dia yakin bahwa Umair tidak akan masuk Islam sekalipun seluruh penduduk bumi masuk Islam.
          Umair bin Wahab terus mendalami agamanya, menghafal kalam Allah yang bisa dia hafal, sehingga dia datang kepada Nabi Saw dan berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melewati suatu Zaman, selama itu aku selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, kerap menimpakan gangguan keras terhadap orang-orang yang masuk ke dalam agama Allah, aku ingin engkau memberi izin kepadaku untuk pergi ke Makkah untuk mengajak orang Quraisy kepada Allah dan Rasulnya, jika mereka menerimanya dariku maka apa yang mereka lakukan adalah sebaik-baik perbuatan, namun jika mereka berpaling maka aku akan melakukan terhadap mereka seperti dulu aku melakukan terhadap orang-orang yang masuk Islam.”
          Rasulullah Saw mengizinkan, maka Umair datang ke Makkah, dia datang ke rumah Shafwan dan berkata, “Wahai Shafwan, sesungguhnya kamu adalah salah seorang pembesar Makkah, salah seorang Quraisy yang berakal, apakah menurutmu apa yang kalian yakini selama ini, yaitu menyembah batu dan menyembelih untuknya benar dalam akal sehingga ia patut dijadikan sebagai agama? Aku telah bersaksi bahwa tiada Ilah yang Haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
          Kemudian Umair terus berdakwah kepada Allah di Makkah sehingga banyak orang Makkah masuk Islam atas ajarannya.
          Semoga Alla memberikan pahala besar kepada Umair bin Wahab dan meliputi kuburnya dengan cahaya.

Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi


“Sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan aku yang pertama kali akan memulainya.”
(Umar bin al-Khattab)

          Pahlawan kisah kita kali ini adalah seorang laki-laki dari shahabat Nabi Saw yang bernama Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi.
          Sejarah mungkin melewati nama laki-laki ini sebagaimana ia melewati jutaan orang-orang Arab sebelumnya tanpa mencatatnya dalam lembarannya atau terbetik dalam benaknya.
          Namun Islam yang agung memberi peluang kepada Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi untuk bertemu dengan pengusaha dunia di zamannya, Kisra Raja Persia dan Kaisar Raja Romawi.
          Dengan dua penguasa ini Abdullah mempunyai kisah yang terus dikenang oleh benak Zaman dan diingat oleh lisan sejarah.
          Kisahnya dengan Kisra, Raja Persia terjadi di tahun ke Enam Hijriyah, saat itu Nabi Saw bermaksud mengirim beberapa orang shahabatnya untuk menyampaikan surat-surat beliau kepada Raja Ajam, beliau ingin mengajak mereka masuk ke dalam agama Islam.
          Rasulullah Saw sudah memperhitungkan betapa pentingnya rencana ini.
          Para utusan itu akan berangkat ke negeri-negeri yang sangat jauh yang mereka belum pernah mengenalnya sedikitpun sebelumnya.
          Mereka tidak memahami bahasa peduduknya, mereka juga tidak mengenal kebiasaan raja-rajanya.
          Kemudia mereka akan menyeru raja-raja itu agar meninggalkan agama mereka, meninggalkan kebanggaan dan kekuasaan mereka  dan masuk ke dalam sebuah agama milik suatu kaum yang belum lama menjadi bagian dari pengikutnya.
          Perjalanan yang berbahaya, yang berangkat akan hilang  dan yang pulang akan dianggap sebagai orang yang baru lahir .
          Karena itulah Nabi Saw mengumpulkan para shahabatnya, beliau berkhutbah di hadapan mereka, beliau memuji Allah dan menyanjungnNya, beliau bertasyahud lalu bersabda, “Amma Ba’du, sesungguhnya aku akan mengutus sebagian dari kalian kepada para raja Ajam, maka jangan berselisih atasku seperti Bani Israil yang berselisih atas Isa putri Maryam.”
          Para shahabat NabiSaw menjawab, “Kami, Ya Rasulullah, akan menunaikan tugasmu dengan baik, silahkan mengtus siapa yang engkau inginkan.”
Rasulullah Saw memilih enam orang dari para shahabat untuk mengemban misi menyampaikan surat-surat beliau kepada raja-raja Ajam. Di antara keenam orang tersebut  adalah Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi. Laki-laki ini terpilih untuk menyampaikan surat Rasulullah Saw kepada Kisra Raja Persia.
          Abdullah bin Hudzafah menyiapkan kendaraannya, mengucapkan selamat tinggal kepada isteri dan anak-anaknya, dia berangkat menuju tempat tujuan, dataran tinggi mengangkatnya, lembah menurunkannya, sendiri tidak bersama siapapun selain Allah, sehingga dia tiba di negeri Persia, dia meminta izin bertemu dengan Raja, dia mengatakan kepada para penjaga bahwa surat yang dia bawa sangat penting.
          Pada saat itu Kisra meminta  agar istanahnya dihias, dia mengundang para pembesar negara untuk hadir di majlisnya dan mereka pun hadir, kemudian Abdullah bin Hudzafah diizinkan untuk masuk kepadanya.
          Abdullah bin Hudzafah masuk menemui pemimpin negeri Persia dengan jubahnya yang usang dan pakaiannya terajut dengan kasar, terlihat kebersahajaan orang Arab pada dirinya.
          Namun dia hadir dengan kepala tegak dan badan tegap, dadanya bergolak dengan kemuliaan Islam, hatinya berkobar dengan keagungan iman.
          Begitu Abdullah masuk,Kisra memberi isyarat kepada salah seorang pengawalnya agar mengambil surat dari tangan Abdullah, namun Abdullah menepis seraya berkata, “Tidak, Rasulullah Saw memerintahku agar menyerahkannya secara langsung, aku tidak akan menentang  perintah Rasulullah Saw.”
          Maka Kisra berkata kepada pengawalnya, “Biarkan dia mendekat kepadaku.” Maka Abdullah mendekat sehingga dia menyerahkan surat Rasulullah Saw kepadanya secara langsung.
          Kemudian Kisra memanggil seorang sekretaris  dari al-Hirah dan memerintahkannya  untuk membuka surat di hadapannya serta membacakannya kepadanya. Isinya adalah,
          “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra penguasa Persia, salam kepada orang yang mengikuti petunjuk...”
          Begitu Kisra mendengar bagian surat tersebut, maka api kemarahan langsung tersulut dalam dadanya, wajahnya merah, urat lehernya menegang, karena Rasulullah Saw memulai suratnya dengan menyebut nama dirinya, maka Kisra menarik surat itu dari tangan sekretarisnya,merobeknya tanpa mengetahui apa isinya sambil berteriak, “Beraninya dia menulis seperti ini padahal dia adalah bawahanku ( yang tinggal di wilayah kekuasaanku).”
          Kemudian Kisra memerintahkan agar Abdullah bin Hudzafah diusir dari majlisnya, maka diapun diusir.
          Abdullah bin Hudzafah meninggalkan majlis Kisra sementara dia tidak mengetahui apa yang Allah perbuat untuknya, apakah dia akan dipenggal atau akan dibiarkan bebas?
          Tetapi tidak lama kemudian dia berkata, “Demi Allah, aku tidak peduli dalam keadaan apapun, yang penting aku sudah menunaikan tugas Rasulullah Saw.” Lalu dia menaikki kendaraannya.
          Manakala kemarahan Kisra sudah mereda, dia memerintahkan agar Abdullan bin Hudzafah dipanggil dan di dihadirkan kepadanya, namun mereka tidak menemukannya, mereka mencari-cari Abdulullah, namun mereka tidak menemukan jejaknya. Mereka terus mencari di jalan-jalan yang menuju Jazirah, Mereka mendapat Abdullah telah jauh berjalan meninggalkan Persia.
          Ketika Abdullah bin Hudzafah tiba di depan Nabi Saw, dia menyampaikan apa yang terjadi kepada beliau,  bahwa Kisra merobek surat beliau, maka Nabi Saw hanya berdo’a pendek, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya.”
          Kisra menulis surat kepada Badzan gubernurnya di yaman, “Utuslah dua orang laki-laki yang kuat kepada seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi di Hejaz, perintahkan dua orang laki-laki itu agar membawanya kepadaku.”
          Maka Badzan (gubernur itu) mengutus dua orang laki-laki terpilih kepada Rasulullah Saw dengan membawa surat darinya, dalam surat tersebut Badzan meminta Rasulullah Saw agar segera berangkat untuk menemui Kisra bersama dua orang laki-laki itu.
          Badzan meminta dua utusannya agar mencari tahu tentang berita Nabi Saw, meneliti perilakunya dan membawa wawasan-wawasan yang mereka ketahui tentang diri pribadinya.
          Dua orang laki-laki itu berangkat, keduanya berjalan denga cepat sehingga keduanya tiba di Thaif dan bertemu dengan beberapa pedagang dari Quraisy, keduanya bertanya kepada mereka tentang Muhammad, mereka berkata, “Dia di Yastrib.”
          Kemudian para pedagang itu kembali ke Makkah dengan kebahagiaan, mereka memberi ucapan selamat kepada orang-orang Quraisy , “Berbahagialah kalian dan bersuka citalah, karena Kisrah telah menghadapi Muhammad dan mencukupkan keburukannya dari kalian.” 
          Adapun dua orang laki-laki utusan Badzan tersebut segera menuju Madinah, keduanya tiba di sana dan bertemu dengan Nabi Saw, mereka menyerahkan surat Badzan kepada beliau seraya berkata, “Raja diRaja,Kisra, telah menulis surat kepada Raja kami Badzan agar mengirim orang yang diberi tugas membawamu kepadanya, kami datang kepadamu agar kamu berkenan berangkat bersama kami kepada Kisra, jika kamu berkenan berangkat bersama kami maka kami akan meminta Kisra agar memperlakukanmu dengan baik dan tidak menyakitimu, namun jika kamu menolak maka kamu telah mengetahui kekuatannya, kekejamannya dan kemampuannya untuk mencelakakanmu dan mencelakakan kaummu.”
          Rasulullah Saw hanya tersenyum dan bersabda kepada keduanya, “pulanglah ke tempat istirahat kalian, kembalilah esok hari.”
          Manakala keduanya kembali kehadapan Nabi Saw  di keesokkan harinya, mereka berkata kepada Nabi Saw, “Apakah kamu sudah bersiap-siap untuk berangkat bersama kami menemui Kisra?”
          Nabi Saw menjawab, “Kalian berdua tidak akan bertemu Kisra setelah hari ini. Allah telah mematikannya, Dia telah menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya Syirawaih di malam ini di bulan ini.”
          Keduanya menatap wajah Rasulullah Saw dalam-dalam, rasa takjub terbaca dengan jelas dari raut muka mereka berdua, keduanya berkata , “Apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan? Kami akan menulis hal ini kepada Badzan.”
          Nabi Saw menjawab, “Ya, katakan kepadanya bahwa agamaku akan menjangkau apa yang dijangkau oleh kerajaan Kisra, jika kamu masuk islam, maka aku akan memberimu apa yang ada di tanganmu dan menjadikanmu Raja atas kaummu.”
          Tidak lama setelah itu Badzan menerima surat Syirawaiah yang berisi:
          “ Amma ba’du, aku telah membunuh Kisra, aku tidak membunuhnya kecuali demi membalas dendam untuk kaum kita, dia telah membunuh orang-orang mulia mereka, menawan kaum wanita mereka dan merampas harta benda mereka, jika suratku ini telah sampai di tanganmu maka ambillah baiat dari kaummu untukku.”
          Begitu Badzan membaca surat Syirawaih, dia meletakkannya di samping dan mengumumkan dirinya masuk islam, orang-orang Persia di negeri Yaman mengikutinya masuk islam.
          Ini adalah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra Persia
          Lalu bagaimana kisah pertemuannya dengan kaisar raja Romawi?
          Pertemuan keduanya terjadi di zaman khilafah Umar bin al-Khattab, kisah pertemuan Abdullah dengan Kaisar merupakan kisah yang sangat mengagumkan.
          Di tahun 19 hijriah Umar bin al-khattab Ra mengutus pasukan untuk berperang melawan orang-orang Romawi, di antara pasukan tersebut terdapat Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi. Kaisar penguasa Romawi sudah mendengar berita-berita tentang bala tentara kaum muslim, mereka mengiasi diri dengan iman yang benar, akidah yang kokoh dan kerelaan mengorbankan nyawa di jalan Allah dan RasulNya.
          Maka dia memerintahkan tentaranya agar jika mereka bisa menangkap  sebagian dari kaum muslimin, mereka  membiarkannya hidup karena dia ingin bertemu dengan mereka. Abdullah bin Hudzafah jatuh sebagai tawanan ditangan orang-orang Romawi, mereka membawanya kepada Kaisar, mereka berkata, “Orang ini termasuk orang-orang pertama dari shahabat Muhammad yang masuk ke dalam agamanya, kami menawannya dan membawanya kepadamu.”
          Raja Romawi Abdullah bin Hudzafah dengan teliti, kemudian dia berkata, “Aku menawarkan sesuatu kepadamu. “ Abdullah bertanya, “Apa itu?”
          Kaisar berkata, “Masuklah kamu kedalam agama Nasrani, jika kamu berkenan maka aku akan membebaskanmu  dan memberimu kedudukan terhormat.”
          Kaisar berkata, “Aku melihatmu sebagai laki-laki pemberani, jika kamu menerima tawaranku maka aku akan membagi kekuasan denganmu dan kita sama-sama memerintah dan menguasainya.”
          Tawanan yang terikat dengan tambang itu tersenyum dan berkata, “Demi Allah, seandainya kamu menyerahkan seluruh apa yang kamu miliki dan segala apa yang dimilik oleh orang-orang Arab dengan syarat aku meninggalkan agama Muhammad sekajap pun niscaya aku tidak akan melakukannya.”
          Kaisar berkata, “Kalau begitu aku membunuhmu.”
          Abdullah menjawab, “Lakukan apa yang engkau inginkan.”
          Kemudian tangan Abdullah diikat di tiang salib, dan Kaisar berkata kepada pengawalnyadengan bahasa Romawi, “Lepaskanlah anak panah didekat kedua tangannya.” Sementara Kaisar tetap menawarkan kepadanya agar masuk ke agamanya namun Abdullah tetap menolak.
          Maka Kaisar berkata, “Lepaskankah kedua anak panah didekat kedua kakinya.” Dan Kaisar tetap menawarkan kepadanya agar meninggalkan agamanya namun Abdullah tetap menolak.
          Pada saat itu Kaisar memerintahkan pengawalnya untuk berhenti, dia meminta agar mereka menurunkannya dari tiang salib, kemudian dia meminta agar sebuah bejana besar disiapkan, lalu diisi dengan minyak, bejana itu diangkat ke atas tungku api sampai minyak itu mendidih, lalu Kaisar meminta kedua orang tawanan dari kaum Muslimin untuk dihadirkan, lalu Kaisar memerintahkan agar salah seorang dari keduanya dilemparkan ke dalam bejana mendidih tersebut, sehingga dan dagingnya terkelupas dan tulangnya terlihat telanjang.
          Di saat itu Kaisar menoleh kepada Abdullah dan kembali mengajaknya masuk ke agama Nasrani, tetap Abdullah justru menolak lebih keras daripada sebalumnya.
          Manakala Kaisar berputus asa darinya, dia memerintahkan pengawalnya agar melemparkan Abdullah ke dalam bejana seperti kedua rekannya sebelumnya, dikala pengawal membawa Abdullah, dia mulai menangis, sehingga nampak para pengawal itu berkata kepada Raja mereka, “Dia menangis.” Kaisar pun menyangka bahwa Abdullah telah dibayang-bayangi ketakutan, dia berkata, “Kembalikan dia kepadaku. “Ketika Abdullah berdiri dihadapan Kaisar, Kaisar kembali mengulangi tawarannya agar Abdullah masuk ke dalam agamanya, namun Abdullah tetap menolak.
          Kaisar menghardik, “Celaka kamu, apa yang membuatmu menangis?”
          Abdullah menjawab, “Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, ‘Kamu sekarang akan dilemparkan ke dalam bejana, jiwamu akan pergi. ‘Aku sangat ingin mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambut yang ada di tubuhku, lalu semuanya dilemparkan ke dalam bejana itu fi Sabilillah. “
          Akhirnya Taghut itu menyerah dan berkata, “Apakah kamu mau mencium kepalaku dan aku akan membebaskanmu?”
          Abdullah menjawab, “Dan melepaskan seluruh tawanan kaum Muslimin?”
          Abdullah berkata, “Aku berkata dalam diriku, “Musuh Allah, aku akan mencium keningnya, lalu aku bebas demikian juga seluruh tawanan kaum Muslimin, tidak mengapa aku melakukan hal itu.”
          Kemudian Abdullah mendekat dan mencium kepalanya, maka Kaisar Raja Romawi memerintahkan agar seluruh tawanan kaum muslimin dikumpulkan dan diserahkan kepada Abdullah bin Hudzafah Ra, maka perintah ini dilaksanakan.
          Sekembalinya ke kota Madinah, Abdullah bin Hudzafah datang kepada Umar bin al-Khattab, dia menceritakan kisahnya, maka al-Faruq sangat berbahagia karenanya. Umar melihat kepada para tawanan, maka dia berkata, “Patut bagi setiap muslim untuk mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, aku yang pertama kali akan mengawalinya. “Maka Umar berdiri dan mencium kepalanya.

Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi


“ Ya Allah, berikanlah sebuah bukti kepadanya atas kebaikan yang dia niatkan.”
(Dari doa Rasulullah Saw untuknya)

          Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah kepala kabilah Daus di masa jahiliah, salah seorang pemuka orang-orang Arab yang berkedudukan tinggi, satu dari para pemilik muru’ah yang diperhitungkan orang banyak.
          Bejana miliknya tidak pernah turun dari api karena senantiasa dipakai untuk memasak  dalam rangka menjamu tamu dan pintu rumahnya tidak pernah tertutup dari tamu yang mengetuk untuk bermalam.
          Dia adalah potret manusia yang memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang takut dan memberi perlindungan kepada orang yang memerlukan perlindungan.
          Di samping itu dia adalah seorang sastrawan cerdik lagi ulung, seorang penyair dengan ilham besar  dan persaan lembut, mengenal yang baik kata-kata yang manis dan pahit, di mana kalimat berperan layaknya sihir.
          Ath-Thufail meninggalkan kampung halamannya di Tihammah menuju Makkah pada saat terjadi pertentangn antara Rasulullah Saw dengan orang-orang kafir Quraisy, di saat Rasul Saw berusaha menyampaikan dakwah islam kepada penduduknya.
          Rasulullah Saw menyeru mereka kepada Allah, senjata beliau adalah iman dan kebenaran. Sementara orang-orang kafir Quraisy memerangi dakwah beliau dengan segala macam senjata, menghalang-halangi manusia darinya dengan berbagai macam cara .
          At-Thufail melihat dirinya masuk ke dalam pertentangan ini tanpa persiapan, menerjuni lahannya tanpa dia kehendaki sebelumnya.
          Dia tidak datang ke Makkah untuk tujuan tersebut, perkara Muhammad dan orang-orang Quraisy tidak pernah terdetik dalam pikirannya sebelum ini.
          Dari sini Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi mempunyai hikayat dengan pertentangan ini yang tidak terlupakan. Kita dengan hikayat tersebut, karena ia termasuk kisah yang sangat menarik.
          Ath-Thufail berkisah ,
          Aku datang ke Makkah , begitu para pembesar Quraisy melihatku,mereka langsung menghampiriku, menyambutku dengan sangat baik dan menyiapkan tempat singgah yang terbagus bagiku.
          Kemudian para pemuka dan pembesar Quraisy mendatangiku sembari berkata, “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya  sebagai nabi itu telah merusak urusan kami dan memecah-bekah persatuan kami serta mencerai-beraikan persaudaraan kami. Kami hanya khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Maka jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan merdengar apapun darinya, dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang isteri dari suaminya.”
          Ath-Thufail berkata,
          Demi Allah, mereka terus manceritakan berita-beritanya yang aneh, menakut-nakuti atas diri dan kaumku dengan perbuata-perbuatan Muhammad yang terkutuk dan tercela sampai aku pun bertekad bulat untuk tidak mendekat kepadanya, tidak berbicara dengannya dan tidak mendengar apapun darinya.
          Manakala aku berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan kepada berhala-berhala yang kepada merekalah kami menunaikan ibadah haji dan kepada merekalah kami mengagungkan, aku menyumbat kedua telingaku dengan kapas karena aku takut ada perkataan Muhammad yang menyusup telingaku.
          Begitu aku masuk masjid, aku melihat Muhammad sedang berdiri. Dia shalat di Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan shalat kami, beribadah dengan ibadah yang berbeda dengan ibadah kami, pemandangan itu menarik perhatianku, ibadahnya menggugah nuraniku. Tanpa sadar aku melihat diriku telah medekat kepadanya sedikit demi sedikit kepadanya, sehingga tanpa kesengajaan dariku telah benar-benar dekat kepadnya.
          Allah pun membuat hatiku sebagian apa yang di ucapkan Muhammad  terdengar olehku, aku mendengar ucapan yang sangat indah. Aku berkata kepada diriku, “Celaka kamu wahai Thufail, sesungguhnya kamu adalah laki-laki penyair yang cerdas, kamu mengetahui yang baik dan yang buruk, apa yang menghalangimu untuk mendengar  dari ucapan laki-laki ini? Jika apa yang dia bawa itu baik maka kamu harus menerimanya, jika buruk maka kamu harus membuangnya.”
          Ath-Thufail berkata, aku diam sampai Rasulullah Saw meninggalkan tempatnya menuju rumahnya, aku mengikutinya sampai dia masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk kepadanya. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kaummu telah berkata tentangmu begini dan begini. Demi Allah mereka terus menakut-nakutiku dari ajaranmu sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar kata-katamu. Kemudian Allah menolak itu semua dan membuatku mendengar sebagian dari ucapanmu. Aku melihatnya baik, maka jelaskan ajaranmu kepadaku.”
          Di saat itu Rasulullah Saw menjelaskan agamanya kepadaku, beliau membacakan surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah aku, tidak pernah mendengar sebuah ucapan yang lebih bagus dari ucapannya, aku tidak melihat sebuah perkara yang lebih adil daripada perkaranya.
          Pada saat itu aku mengulurkan tanganku untuknya, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku masuk islam.
          Ath-Thufail berkata,
          Kemudia aku tinggal di Makkah beberapa waktu lamanya, selama itu aku belajar ajaran-ajaran islam dan aku menghafal al-Qur’an yang mungkin untuk aku hafal. Ketika aku berniat untuk pulang ke kabilahku, aku berkata,
          “Rasulullah, sesungguhnya aku ini adalah laki-laki yang ditaati dikalangan kaummku, aku akan pulang untuk mengajak mereka kepada islam. Berdo’alah kepada Allah agar Dia memberiku sebuah bukti yang mendukungku dalam dakwahku kepada mereka.” Maka Nabi Saw berdoa,
          “Ya Allah berikanlah dia sebuah bukti.”
           Aku pun pulang kepada kaumku, ketika aku tiba di sebuah tempat yang dekat dengan perkampungan mereka, tiba-tib secercah cahaya muncul dikeningku seperti lampu, maka aku berkata, “Ya Allah, pindahkanlah ia ketempat lain, karena aku khawatir mereka akan mengira bahwa ini merupakan hukuman yang menimpa wajahku karena aku meninggalkan agama mereka.”
          Maka cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku, orang-orang melihat cahaya tersebut di ujung cemetiku seperti lampu yang bergantung, aku turun kepada mereka dari sebuah jalan di bukit. Manakala aku tiba di perkampungan, bapakku yang sudah berumur lanjut menyambutku, aku berkata kepadanya, “Menjauhlah engkau dariku, aku bukan termasuk golongamu dan engkau bukan termasuk golonganku.”
          Bapakku bertanya, “Mengapa wahai anakku?”
          Aku menjawab, “Aku telah masuk islam, aku mengikuti Muhammad Saw.”
          Dia berkata, “ Anakku, agamau adalah agamaku juga.”
          Aku berkata, “Pergilah, mandilah dan sucikanlah pakaianmu, kemudian kemarilah aku akan mengajarimu apa yang aku ketahui.”
          Maka bapakku pun pergi, dia mandi dan menyucikan bajunya, kemudian dia datang dan aku mejelaskan islam kepadanya dan dia masuk islam.
          Kemuian isteriku datang kepadaku, aku berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku, aku bukan termasuk golonganmu dan kamu bukan termasuk golonganku .”
          Dia bertanya, “Bapak dan ibumu sebagai jaminanku, mengapa?”
          Aku menjawab, “Islam memisahkan antara diriku dengan dirimu, aku telah mengikuti Muhammad.”
          Dia berkata, “Agamamu adalah agamaku.”
          Aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dari air Dzi asy-Syura.”
          Dia berkata, “Bapak dan ibuku sebagai jaminanku, apakah kamu takut sesuatu terhadap wanita ini dari Dzi as-Syura?”
          Aku menjawab, “Celaka kamu dan celaka juga Dzi as-Syura, aku katakan kepadamu, ‘Pergilah, mandilah di sana jauh dari penglihatan orang-orang, aku menjamin bahwa batu pejal itu tidak akan melakukan apapun terhadapmu.”
          Dia pun pergi untuk mandi, kemudian dia datang, aku menjelaskan islam kepadanya maka dia masuk islam.
          Kemudian aku mengajak kaumku Daus, namun mereka tidak menjawab dengan segera, kecuali Abu Hurairah, dia adalah orang yang paling cepat menjawab seruanku.
          Ath-Thufail berkata,
          Aku datang bersama Abu Hurairah kepada Rasulullah Saw di Makkah. Disaat itu Nabi Saw bersabda kepadaku, “Hati kaummu masih tertutupi sekat tebal dan kekufuran yang keras. Orang-orang Daus dikuasai kefasikan dan kemaksiatan.”
          Lalu Rasulullah Saw berdiri mengambil air, beliau wudhu kemudian mengajarkan shalat, beliau mengangkat kedua tangan beliau kelangit. Abu Hurairah berkata, “Manakala aku melihat beliau malakukan itu, aku takut beliau berdoa buruk atas kaumku, akibatnya mereka akan binasa. Maka aku berkata,’celaka kaumku.”
          Yetapi Rasulullah Saw bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah, berikanlah pertunjuk kepada Daus. Ya Allah berikanlah petunjuk kepada Daus.”
          Kemudian beliau menoleh kepada Ath-Thufail dan berkata, “Pulanglah kepada mereka, serulah mereka kepada islam dengan lemah lembut.”
          Ath-Thufail berkata,
          Aku terus tinggal di kampung Daus, aku mengajak mereka kepada islam sampai Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah. Perang Badar,Uhud dan Khandaq berlalu. Aku datang kepada Nabi Saw bersama delapan puluh keluarga dari Daus yang telah masuk islam dan islam mereka pun telah bagus, Rasulullah Saw berbahagia dengan kehadiran kami, beliau memberikan bagian dari harta rampasan perang Khaibar kepada kami sama dengan kaum muslimin lainnya.
          Kami berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, Jadikanlah kami sebagai sayap kanan pasukanmu dalam setiap peperangan yang engkau terjuni. Jadikanlah Syiar kami,’ Mabrur.”
          Ath-Thufail berkata,
          Setelah itu aku terus bersama Rasulullah Saw sampai Allah Ta’ala membuka Makkah untuk beliau. Aku berkata, “Ya Rasulullah, tugasilah aku ke Dzul Kafain untuk menghancurkan berhala Amru bin Hamamah, aku ingin menghancurkannya.”Maka Nabi Saw mengizinkannya, Ath-Thufail berangkay dengan sebuah pasukan yang terdiri dari kaumnya.
          Ketika ath-Thufail tiba di sana, dia hendak membakarnya, kaum laki-laki,wanita dan anak-anak memperhatikannya, mereka berharap ath-Thufail akan ditimpa keburukan, mereka berharap halilintar menyambarnya jika dia menghancurkan Dzul Kafain.
          Namun ath-Thufail tetap bergerak maju kepada berhala tersebut dihadapan tatapan mata para pemujanya.
          Ath-Thufail menyalakan api, membakar dada berhala itu sambil bersyair,
          Wahai Dzul Kafain, aku tidak termasuk pemujamu
           Kehidupan kami mendahului kelahiranmu
          Sesungguhnya aku membakar dadamu dengan api.
          Api melahap berhala itu, sekaligus melahap sisa-sisa syirik yang ada pada kabilah Daus, maka mereka semuanya masuk islam dan islam mereka bagus.
          Setelah itu Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi senantiasa mendampingi Rasulullah Saw sampai beliau wafat dan berpulang ke hadapan Rabbnya.
          Setelah itu khilafah berpindah ke tangan Abu Bakar, ath-Thufail memberikan jiwanya, pedangnya dan anaknya dalam menaati khlifah Rasulullah Saw.
          Ketika perang Riddah berkecamuk, ath-Athufail berada di barisan depan bala tentara kaum muslimin untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab, putranya ikut bersamanya.
          Ketika dia sedang menuju al-Yamamah, ath-Thufail bermimpi, dia berkata kepada kawan-kawannya,”Aku bermimpi, tolong  jelaskan kepadaku apa artinya?”
          Mereka bertanya, “Mimpi apa?”
          Dia berkata, “Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, seorang wanita memasukkanku ke dalam perutnya, anakku Amru mencari-cari diriku dengan gigih namun antara diriku dengan dirinya terdapat penghalang.”
          Mereka berkata, “Itu mimpi yang baik.”
          Selanjutnya ath-Thufail berkata, “Aku sudah bisa mengartikan makna mimpiku. Kepalaku di cukur, artinya ia dipotong. Seekor burung keluar dari mulutku, artinya arwahku meninggalkan jasadku. Wanita yang memasukkanku ke dalam perutnya adalah bumi yang digali lalu aku dikubur disana. Anakku yang gigij mencariku, artinya dia mengharapkan syahadah yang akan aku dapatkan dengan izin Allah, anakku akan mendapatkannya kelak.”
          Di perang Yamamah, shahabat yang mulia Amru bin ath-Thufail ad-Dausi Ra berperang dengan gigih, memperlihatkan kepahlawanannya dengan gagah berani, sampai dia gugur sebagai syahid di bumi perang Yamamah.
          Adapun anaknya, Amru, maka dia terus berperang sampai tubuhnya penuh luka, tangan kanannya terpotong, dia pulang ke Madinah meninggalkan bapaknya, sementara tangan kanannya dikubur di bumi Yamamah.
          Di masa khilafahUmar bin al-Khattab, Amru bin ath-Thufail datang menemuinya, tatkala makanan dihidangkan kepada al-Faruq sementara orang-orang yang duduk di sekelilingnya, dipersilahkan untuk menyantap hidangan, Amru justru malah menjauh darinya. Maka al-Faruq bertanya kepadanya,
          “Ada apa dengan dirimu? Apakah kamu menjauh dari makanan ini karena kamu merasa malu kepada tanganmu?”
          Dia menjawab, “Benar wahai Amirul Mukminin.”
          Umar pun berkata, “Demi Allah, aku tidak menyantap makanan ini sehingga kamu mencampurnya melalui bagian tanganmu yang terputus itu. Demi Allah, diantara yang hadir ini tidak ada seseorang yang sebagian anggotanya telah tinggal di surga selainmu.”Maksudnya adalah tangannya.
          Impian syahadah terus berkibar dalam angan-angan Amru sejak dia berpisah dari bapaknya. Perang Yarmuk tiba, Amru bin Ath-Thufail bersegera berpartisipasi di dalamnya bersama orang-orang yang bersegera, dia berperang sehingga dia meraih syahadah yang di harapkan oleh bapaknya untuknya.
          Semoga Allah merahmati ath-Thufail bin Amri ad-Dausi , seorang syahid dan bapaknya dari seorang syahid.

         


Said bin Amir al-Jumahi


“Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah dan Rasulnya di atas selain keduanya.”
(Ahli Sejarah)

          Anak muda ini, Said Bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar  ke daerah Tan’im di luar Makkah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukum mati atas Khubaib bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad Saw setelah mereka menangkapnya dengan cara licik.
           Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh, Said mampu bersing dengan orang-orang yang lebih tua umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di antara para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lainnya yang menyelenggarakan acara tersebut.
          Semua itu membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy tersebut terikat dengan tambang, sementara tangan anak-anak, para pemuda dan kaum wanita mendorong-dorong ke pelataran kematian dengan kuatnya, mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap Muhammad Saw melalui Khubaib, membalas kematian orang-orang mereka yang terbunuh di Badar  dengan membunuh Khubaib.
          Manakala rombongan orang dalam jumlah besar dengan seorang tawanan mereka tersebut telah tiba di tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di antara teriakkan kaum wanita dan anak-anak,dia mendengarnya berkata,” Bila kalian berkenan membiarkanku shalat dua rakaat  sebelum aku kalian bunuh?”
          Said melihat Khubaib, menghadap kiblat, shalat dua rakaat,dua rakaat yang sangat baik dan sangat sempurna. Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, “Demi Allah, kalau aku tidak khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati niscaya aku pasti akan memperbanyak lagi shalatku.”
          Kemudian Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib sepotong demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, “Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu sedangkan kamu selamat?”
          Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, “Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.”
          Maka orang baanyakpun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi keudara, teriakkan mereka gegap gempita menggema dilangit.
          Disaat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas  tiang Salib dan berkata, “Ya Allah, balaslah mereka satu persatu,bunuhlah mereka sampai habis dan janga biarkan seorangpun dari mereka hidup dengan aman.”
         Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.
         Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama dengan datangnya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.
          Namun tidak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said bin Amir, Khubaib tidak pernah terbenam  dari benaknya sesaatpun.
         Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur, membayangkannya dalam khayalannya ketika dia terjaga, berdiri di depannya ketika shalat dua rakaat dengan tenang dan tenteram di depan kayu salib, Said mendengar bisikkan suaranya di kedua telinganya ketika dia berdoa atas orang-orang Quraisy, maka dia khawatie sebuah Halilintar akan menyambar atau sebuah batu dari langit akan jatuh menimpanya.
          Peristiwa Kematian Khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said                  
          Persoalan yang belum dia ketahui selama ini.
         Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa kehidupan
         Sejati adalah jihad di jalan akidah yang diyakininya sampai maut.
         Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang
         Terpancang kuat bisa melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban.
         Khubaib mengajarkan kepadanya perkara lainnya, yaitu seorang laki-laki
         Yang dicintai sedemikian rupa oleh para sahabatnya adalah seorang Nabi     
         Yang didukung oleh kekuatan dan pertolongan langit.
         Pada saat itu Allah Ta’Ala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di hadapan sekumpulan orang banyak, mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan orang Quraisy, menanggalkan berhala-berhala dan patung-patung, menyatakan diri sebagai seorang muslim.
          Said bin Amir al-Jumahi berhijrah ke Madinah  tinggal bersama Rasulullah Saw, ikut bersama beliau dalam perang  Khaibar dan peperangan lain sesudahnya.
          Manakala Nabi Saw yang mulia dipanggil menghadao keharibaan Rabbnya dalam keadaan Ridha, Said bin Amir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para Khalifah Nabi Saw, Abu bakar dan Umar Ra. Said bin Amir hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah membeli akhirat dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalanya diatas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu.
          Dua orang kalifah Rasulullah Saw mengenal kejujuran Said Ra dan ketakwaannya, keduanya mendengar nasehatnya mencamkan kata-katanya.
          Said Ra datang kepada Umar bin al-Khattab Ra di awal Khilafahnya, dia berkata,” Wahai Umar, aku berpesan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah dari manusia dan jangan takut kepada manusia dari Allah, janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu, karena kata-kata yang baik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah orang-orang dimana Allah Ta’Ala menyerahkan perkara mereka kepadamu dari kalangan kaum muslimin yang dekat maupun yang jauh, cintailah untuk mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu dan keluargamu, hadapilah kesulitan-kesulitan untuk menuju kepada kebenaran dan jangan takut karena Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela.”
          Maka Umar menjawab,”Siapa yang mampu melakukannya wahai Said?”
Said berkata,” Ia bisa dilkaukan oleh orang-orang sepertimu yang Allah Ta’ala serahi perkara umat Muhammad dan diantara dia dengan Allah tidak terdapat seorangpun.
          Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya, Umar berkata,” Wahai Said. Aku menyerahkan kota Himsh kepadamu.” Maka Said menjawab,” Wahai Umar, aku memohon kepadamu dengan nama Allah agar mencoret namaku.”
          Maka Umar marah, dia berkata,” Celakalah kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.
          Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh, Umar bertanya kepadanya,”Aku akan menetepkan gaji untukmu.”
          Said menjawab,” Apa yang akan aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian Baitul Mal kepadaku melebihi kebutuhanku.” Saidpun berangkat ke Himsh menunaikan tugasnya.
          Tidak lama berselang, Amirul Mukminin Umar bin Khattab didatangi oleh orang-orang yang bisa dipercaya dari penduduk Himsh, Umar berkata kepada mereka,” Tulislah nama pernduduk miskin dari Himsh agar aku bisa membantu mereka.”
          Mereka menulis dalam sebuah lembaran, didalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta Said bin Amir.
          Umar bertanya, “Siapa Said bin Amir?
          Mereka menjawab, “Gubernur kami.”
          Umar menegaskan, “Gubernur kalian miskin?”
          Mereka menjawab, “Benar, di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.”
          Maka Umar Ra menangis sampai air matanya membasahi janggutnya, kemudian dia mengambil seribu dinar dan memasukkannnya ke dalam sebuah kantong. Umar Ra berkata, “ Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.”
          Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin Khattab Ra. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya seraya berkata, “ Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat.
          Isterinya datang tregopoh-gopoh dengan penuh kecemasan , dia berkata, “Apa yang terjadi wahai Said? Apakah Amirul Mukminin wafat?”
          Said menjawab, “Lebih besar dari itu.”
          Isterinya bertanya,” Apa yang lebih besar?”
          Said manjawab, “ Dunia datang kepadaku untuk merusak
         Akhiratku, sebuah fitnah telah menerpa rumahku.”
         Isterinya berkata, “ Engkau harus berlapas darinya.” Dia belum mengerti apa pun terkait dengan perkara dinar tersebut.
          Said bertanya, “Kamu bersedia membantuku?”
          Isterinya menjawab, “Ya”
          Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantong-kantong dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang miskin.
          Tidak berselang lama setelah itu, Umar bin al-Khattab datang ke negeri Syam untuk mengetahui keadaannya. Ketika Umar tiba di Himsh,kota ini juga dikenal dengan Kuwaifah, bentuk kecil dari kufah,kota Himsh disamakan dengan Kufah karena banyaknya keluhan penduduknya terhadap para gubernurnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kufah. Ketika Umar Ra tiba disana, orang-orang Himsh bertemu dengan Umar untuk memberi salam kapadanya. Umar Ra bertanya, “Bagaimana dengan Gubernur kalian?”
          Maka mereka mengadukannya dan menyebutkan 4 hal dari sikapnya, yang satu lebih besar dari yang lain.
          Umar Ra berkata, “Maka aku mengumpulkan mereka dengan pribadi Said sebagai Gubernur mereka dalam sebuah majlis, aku memohon kepada Allah agar dugaanku kepadanya selama ini tidak salah, aku sangat percaya kepadanya, Ketika mereka dengan Gubernur mereka berada dihadapanku, aku berkata, “Apa keluhan kalian terhadap Gubernur kalian?”
          Merka menjawab, “Dia tidak keluar kepada kami, kecuali ketika siang sudah naik.”
          Aku berkata, “Apa jawabanmu wahai Sa’id?”
          Said diam sesaat kemudian berkata, “Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini, akan tetapi memang harus dikatakan. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Setiap pagi aku menyiapkan adonan mereka, kemudian aku menunggunya beberapa saat sampai ia mengembang,kemudian aku membuat roti untuk mereka,kemudian aku berwudhu dan keluar shalat untuk masyarakat.
          Umar berkata, “aku pun berkata kepada mereka, “Apa yang kalian keluhkan darinya juga?”
          Mereka menjawab, “Dia tidak menerima seorangpun di malam hari.”
          Aku bertanya kepada Said, “Apa jawabanmu wahai Said?”
          Said berkata, “Demi Allah aku juga malu mengatakan hal ini. Aku telah memberikan siang bagi mereka, sedangkan malam maka aku memberikannya kepada Allah Swt.
          Aku bertanya, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”
          Mereka menjawab,  “Dia tidak keuar kepada kami satu hari dalam sebulan .”
          Aku bertanya, “Apa ini wahai Said?”  
          Said menjawab, “Aku tidak mempunyai pelayan wahai Amirul Mukminin, aku pun tidak mempunyai pakaian selain yang melekat ditubuhku ini. Aku mencucinya sekali dalam satu bulan, aku menunggunya sampai ia kering, kemudian aku keluar di sore hari.”
          Kemudian aku bertanya,” Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”
Mereka mejawab, “Terkadang dia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang disekitarnya.”
          Aku bertanya, “Apa ini wahai Said?”
          Said menjawab, “Aku menyaksikan kematian Khubaib bin Adi, ketika aku masih musyrik, aku melihat orang-orang Quraisy mecincang jasadnya sambil berkata kepadanya, ‘Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini?’ Lalu dia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada diantara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan tenang  sedangkan Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.’Demi Allah setiap aku teringat hari itu, yakni ketika aku membiarkannya dan tidak menolongnya sehingga aku senantiasa dikejar ketakutan bahwa Allah tidak akan mengampuniku,maka aku pingsan.”
          Saat itu Umar Ra berkata, “Segala puji bagi Allah yang membenarkan dugaanku kpadamu.
          Kemudian Umar Ra memberinya seribu dinar agar dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
          Isterinya melihat, diapun berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami dari pelayananmu, belilah kebutuhan kami dan ambillah seorang pelayan.”
          Said berkata kepadanya, “Apakah kamu mau aku tunjukkan kepada yang lebih baik dari itu?” Isterinya balik bertanya , “Apa itu?”
          Said berkata, “Kita memberikannya kepada siapa yang membawanya kepada kita, kita lebih memerlukan hal itu.”
          Isterinya bertanya, “Apa maksudmu?”
          Said menjawab, “Kita berikan kepada Allah dengan cara yang baik.”
          Isterinya berkata, “Setuju dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
          Said tidak meninggalkan majlisnya itu sehingga dia membagi-bagi dinar tersebut di beberapa kantong, lalu dia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, “Berikanlah ini kepada janda fulan, berikanlah ini kepada anak-anak yatim fulan, berikanlah ini kepada keluarga fulan, berikanlah ini kepada orang-orang miskin keluarga fulan .”
          Semoga Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi, dia termasuk orang-orang yang mementingkan saudaranya sekalipun dia sendiri memerlukan.